Lintas Peristiwa

Kekerasan Perempuan Tinggi, KOHATI dan Aktivis Manokwari Angkat Bicara

MANOKWARI, INTIM NEWS – Kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Manokwari, jumlah korbannya semakin tinggi. Bahkan, para predator (laki-laki-red) rata-rata adalah orang dekat korban.

Rikha Rumrawer, Kepala Bidang PPA, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak kabupaten Manokwari menjelaskan, kasus kekerasan yang terjadi di Manokwari, sepanjang 2020 mengalami kenaikan.

” Sejak Januari hingga Desember tahun 2020, setelah kita rangkum semua tercatat, ada 77 kasus di kabupaten Manokwari,” beber Rikha, Senin (08/03/2021).

Melihat dari data di atas, jelasnya, tentu kasus di tahun 2019 sekitar 75 dan ada mengalami kenaikan pada 2020 ini.

” Untuk di sepanjang tahun 2020 kemarin, rata-rata kasus yang terjadi adalah para korban mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ketika kita tangani kasusnya, rata-rata suaminya mempunyai selingkuhan. Sehingga, pada saat ketahuan si suami langsung melampiaskan ke istri,” tuturnya.

Sementara tahun 2021, ujar dia, ada 2 kasus yang menurutnya sangat menonjol, bahkan korbannya harus kehilangan nyawa dengan dibunuh.

” Ada dua kasus di tahun 2021 yang menjadi perhatian kami, seperti kejadian di hutan lindung hunung meja dan Balai Latihan Kerja (BLK) Manokwari, baru-baru ini,” ujarnya.

Sementara itu, lewat peringatan Internasional Women’s Day (Hari Perempuan Internasional) ini, sejumlah aktivis perempuan di Manokwari juga angkat bicara.

Penjabat Sementara Ketua Korps HMI Wati (KOHATI) Cabang Manokwari, Fitriani Safua mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali melakukan gerakan berkaitan dengan perlindungan perempuan.

” Namun, bagi Saya yang harus dilakukan adalah penyuluhan bagi para pelaku kekerasan terhadap perempuan, sehingga tidak terus-menerus menjadikan perempuan sebagai tempat pelampiasan amarah dan nafsu,” tutur Safua.

Yang menjadi korban selama ini adalah perempuan, maka bagi dia, lewat momentum Internasional Women’s Day (IWD) tahun 2021 ini, perempuan harus diberikan perlindungan dan hak sebagai mana mestinya.

” Saya lihat, dengan adanya kekerasan yang sering menjadikan perempuan sebagai sasaran utama, membuat perempuan terus jatuh dan takut untuk bangun,” tuturnya.

Sehingga, ujar dia, sudah saatnya perempuan diberikan perlindungan, hentikan kekerasan gender ini terus-menerus terjadi. “Perempuan harus bangkit, sesuai dengan tema nasional IWD ‘Memilih untuk Menantang’, Jadikan Perbedaan Sebagai Kekuatan,” ucap Safua.

Tidak hanya itu, Yuliana Numberi, Aktivis Pemerhati Perempuan juga menjelaskan, saat ini masalah kekerasan terhadap perempuan sangat tinggi sekali.

” Selama tahun 2020 hingga 2021, banyak kasus yang Saya tangani, baik di Papua Barat maupun di Papua. Sebagian besar adalah KDRT dan perebutan hak asuh anak,” ungkap dia.

Menurut Numberi, dengan kasus KDRT dan perebutan hak asuh anak yang semakin banyak, sudah saatnya untuk perbanyak sosialisasi dan advokasi kepada perempuan.

” Karena, saat ini banyak orang termasuk pejabat dan oknum aparat penegak hukum yang menjadi pelaku tindak kekerasan, terhadap perempuan,” ujarnya.

Harapan dia, setiap perempuan harus sama-sama satu pandangan, sehingga sejalan dalam mendorong hak-hak perempuan di mata hukum. (Safwan)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top