Maluku

Utamakan Keluarga Bantu Odie Adiknya, Barnabas Orno Siap Mundur Dari PDIP

Barnabas Orno - Wakil Gubernur Maluku

AMBON,MALUKU – Posisi dirinya sebagai kader PDI Perjuangan di ujung tanduk, Barnabas Orno siap mundur dari kader PDI Perjuangan. Pasalnya, rekomendasi PDI Perjuangan mengusung pasangan Thomas Noach-Kilikily. Sementara, Adik Barnabas Orno, Desianus Orno, di rekomendasikan oleh partai Gerindra dan Golkar berpasangan dengan Niko Kilikily. Olehnya itu, demi mengutamakan keluarga dan membantu adiknya, Barnabas Orno siap mundur dari PDI Perjuangan.

Hal ini disampaikan Barnabas Orno, dalam keterangan pers nya kepada sejumlah wartawan, Jumat (23/10/2020), di ruang kerjanya.

Menurut Barnabas yang biasa dipanggil Abas Orno ini, Indonesia kecil adalah keluarga. Kalau kehidupan adik kakak harmonis, itu pasti NKRI kokoh. Dan, Maluku ini punya budaya pela gandong, terutama dalam kaitan ini sagu salempeng di patah dua, ale rasa beta rasa, potong di kuku rasa di daging. Kalau Saya mengatakan mengasihi banyak orang tetapi saudara kandung Saya tidak bantu. Hari ini dia bagaikan terhempas di samudra yang penuh dengan gelombang, apakah sebagai seorang kakak, sekedar bantal berenang masa tidak kasih bantu untuk berenang?.

” Saya kakak kandung, budaya pela gandong yang begitu kuat dan mengokohkan rasa persaudaraan orang Maluku, tidak mungkin kita mengatakan kita bersaudara dengan semua orang sementara adik kandung kita buang? Yang Saya takutkan saat Saya pulang di kampung, keluarga besar menyangkal Saya. Memvonis Saya, adik kandung saja kau tidak bantu kenapa mau datang kesini? Karena kita hidup di tengah masyarakat Maluku dan di kampung halaman kita yang memang masih penuh dengan kearifan lokal, nilai-nilai budaya dan adat istiadat. Odi satu tali pusar dan satu tempat garam Saya. Kalau yang lain punya kadar rasa persaudaraannya tipis-tipis bisa membantai adik kandungnya karena kepentingan politik, tetapi kalau bagi Saya yang rasa kekeluargaan dan persaudaraan adalah segala-galanya, tidak mungkin. Mungkin nyawa pun Saya korbankan. Agar tidak menyalahi ketentuan partai, moral dan etika, Saya anggota PDI P dan pergi membantu adik Saya, terkesan Saya melawan PDIP, jadi Saya lagi pertimbangkan kalau mungkin Saya mengajukan permohonan pengunduran diri,” ungkap Abas.

Abas mengakui, sudah datangi Murad Ismail sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan. Saya, membaca pernyataan Pak Edwin Huwae di salah 1 media, sebenarnya menurut Saya, tidak usahlah sampai terpublikasi seperti itu. Kalau belum tahu soal rencana kampanye Saya ke Maluku Barat Daya (MBD), tidak usah membuat pernyataan yang menurut Saya, Saya bukan anak kecil. Hari ini Saya dan Pak Gubernur saat ini adalah orang tua di Maluku. Walaupun ada perbedaan politik tetapi sebagai seorang pemimpin, harus elegan sehingga, tidak membuat peta konflik di masyarakat.

” Kalaupun Saya bicara dengan Pak Gubernur, apakah Saya harus umumkan di pers? Ataukah Saya harus laporkan kepada Pak Edwin? Secara etik dan moral, apakah pembicaraan Saya dengan Pak Gubernur, itu Saya harus publikasikan? Sehingga Pak Edwin harus mempertahankan, apakah sudah atau belum? Selama ini Saya tidak pernah membuat pernyataan pers. Kecuali, cerita-cerita lepas dengan teman-teman, mungkin ya. Tetapi untuk pernyataan publik, Saya tidak pernah mengatakan. Dan, supaya Pak Edwin perlu tahu, kalau soal itu, secara santun Saya sudah bicara dengan Pak Gubernur. Setelah selesai pelantikan Raja Allang, dari Allang Saya langsung datang ke Pak Gubernur dan Saya bicarakan ini dengan Pak Gubernur. Pak Gubernur , Pak Murad Ismail seorang gubernur dan seorang ketua DPD PDIP Maluku, juga sangat elegan, sangat santun. Saya bicara karena Saya tahu, secara moril, Pak Gubernur adalah Saya punya Gubernur. Saya perlu lapor, Saya perlu menyampaikan karena terkait denga perhelatan politik di MBD, adik kandung Saya ada maju. Saya menyadari sungguh, secara etik dan moral, Saya masih kader dan anggota PDI Perjuangan di provinsi Maluku. Sehingga, secara santun Saya harus datang lapor dan meminta pertimbangan beliau,” sebut Abas yang saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur (Wagub) Maluku.

Lebih lanjut ingatnya, secara santun sebagai seorang tua dan pemimpin, terlepas dari seorang gubernur dan Ketua DPD PDIP, sebagai adik dan kakak, Pak Gubernur justru menyampaikan bagi Saya, Pak Wagub, Saya tidak bisa larang Pak Wagub karena Saya bilang, ini adik kandung Saya. Dan, selama ini kerja-kerja bersama di PDIP , semua orang membantu. Tetapi yang paling utama pasti orang di dalam rumah. Adik-adik kandung Saya pasti membantu.

” Sehingga, Saya datang ke Pak Gubernur itu kita sama-sama mencari solusi seperti apa sehingga secara etik dan moral, Saya tidak menyalahi etika dan moral sebagai seorang kader. Seorang Abas Orno yang adalah seorang kader PDI Perjuangan. Juga sementara itu pula, Saya tidak mungkin meninggalkan adik kandung Saya. Ini justru yang membuat Saya datang di Pak Gubernur. Bahkan, Pak Gubernur elegan, beliau mengatakan kepada Saya secara santun sebagai seorang gubernur terhadap wakil gubernurnya dan kakak terhadap adiknya, bahwa, Pak Wagub, aturan partai ini tidak mentolerir . Tetap beliau menyampaikan secara santun. Di ruang terbatas, bukan yang seperti Pak Edwin menuntut seakan-akan Saya harus publikasikan. Tidaklah, Tidaklah. Beliau malah mengatakan dengan jelas, “Saya tidak bisa melarang Pak Wagub. Pak Wagub punya hak politik”. Kita punya hak politik tetapi punya etika. Justru karena etika itu makanya Saya datang kepada Pak Gubernur sebagai pimpinan dan atasan Saya, langsung maupun tidak langsung dan terlepas dari itu, beliau adalah Ketua PDIP. Beliau mengatakan lagi, ” Pak Wagub, Saya Sayang Pak Wagub. Saya justru tidak mau Pak Wagub dipecat. Karena, aturan partai ini ketat. Itu dianggap tidak mendukung partai. Jadi, Saya tidak larang Pak Wagub, terserah Pak Wagub tetapi pasti pecat”. Lalu Saya bilang, “sebagai adik dan kakak makanya Saya datang. Kalau toh itu konsekuensinya, mau apalagi?,” akuinya.

Wagub kembali menuturkan, ibarat adik kandung Saya mau dibunuh masa Saya balik belakang. Tidak bisa. Jadi Pak Edwin, Saya sangat menghargai Pak Edwin. Saya juga kaget membaca pernyataan itu. Terus terang, Saya punya istri dan anak-anak dan punya keluarga besar. Semua ikut merasakan ini.

” Kalau merasa Saya juga PDIP, kenapa Pak Edwin kalau belum tahu Saya belum dengan Pak Gub, kenapa Pak Edwin tidak panggil Saya, sebagai pimpinan partai, panggil Saya lalu komunikasi baik-baik. Jangan bicara di Pers seperti itu. Jadi, hasil pembicaraan dengan Pak Gubernur itu, justru artinya mau apalagi? Saya harus membantu adik Saya. Tetapi itu pun belum Saya lakukan. Pernyataan Pak Edwin kalau Abas Orno tidak lebih besar dari PDIP, kenapa kata-kata itu harus keluar? Memang donk, Saya tidak lebih besar dari sebuah partai besar. Saya ini hanya seorang Abas Orno, mungkin tidak lebih besar dari sebutir pasir di pantai. Tetapi andai kata walaupun dia cuma 1 butir pasir di pantai, kalau dimanfaatkan sebutir pasir itu bisa mengokohkan bangunan. Saya tidak mengatakan Saya ini segala-galanya, tidak. Ini hanya secara moral, adik kandung Saya maju. Jadi, pernyataan Pak Edwin, Saya timbang-timbang dan Saya lihat, mungkin teman-teman di partai sudah tidak rasa nyaman dengan Saya, jadi Saya juga sudah berpikir, supaya saya tidak menyalahi etika dan norma partai, Saya mungkin akan mengajukan permohonan pengunduran diri sehingga, lebih elegan dan lebih santun. Daripada Saya, suka atau tidak suka, mau tidak mau, pasti Saya bantu adik Saya. Daripada jadi pemicu sehingga menjadi polemik, bagi kader-kader PDIP yang lain, jadi akhirnya seakan-akan Saya jadi pemicu, ya sudahlah, saya berpikir, Saya tida punya target apa-apa lagi. Tuhan berkenan Saya sampai disini. Jadi, Saya berpikir Saya beristirahat di politik tetapi tetap Saya sangat menghargai , hormat kepada PDI Perjuangan karena Saya tidak bisa pungkiri, Saya seperti begini juga Saya ada di PDI Perjuangan. Tetapi apalah arti karena adik kandung Saya, Saya menjadi sumber konflik dan sumber polemik terhadap partai ini karena Saya sangat menghargai partai ini,” tuturnya. (ulin)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top