Ambon,Maluku- Ternyata eksport ikan dari Maluku, tidak pernah ke Negara-Negara Uni Eropa. Pasalnya untuk kebijakan import ikan ke Negara Negara Uni Eropa (UE), Pemerintah UE menetapkan Standar tinggi.
Pernyataan ini diungkapkan oleh Kepala Subseksi Tata Pelayanan Operasional, Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Kelas I Ambon yang ditemui di kantornya, di jalan Laksdya Leo Wattimena, Waiheru Ambon,Senin (16/7/2018)
Ditambahkan Sunarjo, untuk ekspor ikan, Negara-negara Uni Eropa menerapkan Grid A, bagi importir yang akan memasukan komoditi ikan ke negaranya, sementara pengusaha eksport ikan di Maluku masih berada pada Grid B.
“Jadi perusahaan eksportir di Maluku semuanya masih dalam Grid B, tetapi yang diisyaratkan untuk negara Uni Eropa adalah importir yang sudah pada Grid A, dimana meliputi sistem dan infrastrukturnya, “ungkap Sunarjo.
Ketika disinggung mengenai ekspor ke negara Prancis dan Belanda, apakah pernah menjadi tujuan ekspor Ikan selama ini, Sunarjo menampik, bahkan untuk memperkuat pernyataannya itu, Ia menyatakan, dirinya yang membuat surat ijinnya sehingga mengetahui negara-negara mana saja yang jadi tujuan ekspor.
Menurut Sunarjo,keran ekspor langsung( Direct Ekspor) mulai dibuka sejak tahun 2018, dengan tujuan, Amerika, Jepang, Vietnam, dan Singapura, Hongkong saja..
Ditambahkannya, salah satu syarat untuk menjadi eksportir ikan dan hasil laut lainnya seperti, udang lobster,Kepiting dan lola adalah harus memiliki dokumen Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP) yang dikeluarkan Oleh kantornya (Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu), sehingga komoditi tersebut telah tercatat dan memiliki register number untuk ekspor.
Diungkapkan olehnya, impor ikan dan hasil laut yang berlangsung di Maluku Tidak hanya lewat perusahaan eksportir yang besar tetapi juga ada pelaku usaha perorangan, dimana Mereka mengirim ke importir lain di luar daerah seperti di Makassar, Surabaya dan Jakarta
” Biasanya kelompok ini, Mereka tidak memiliki dokumen HACCP “cetusnya
Sunarjo menandaskan, sebelum tahun 2018 ekspor ikan berlangsung gencar hanya saja dilakukan lewat pintu ekspor pelabuhan lain, seperti Makassar dan Surabaya tetapi surat-surat dokumen ekspor tetap diurus di Ambon.
Menurut Sunarjo, Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Kelas I Ambon, Tupoksinya bukan hanya mengurus surat kelengkapan pengiriman ikan saja, tetapi tugasnya adalah, meneliti dan mendeteksi hama dan penyakit ikan.
“Untuk itu, ikan yang mau keluar ekspor harus Katong teliti dan periksa dulu, sehingga pada level tertentu hasilnya negatif, kalau ada maka Katong investigasi toh” ulasnya.
Bahkan menurutnya, hingga saat ini belum ada temuan penyakit berbahaya pada ikan dari Maluku. (IN/NK)
