Berita Parlemen

Mercy Barends dan Utusan BPH Migas Tinjau Pembangunan Tanki LPG di Wayame

118282922_619953632286376_2876287679287884648_n

AMBON,MALUKU –  Mercy Barends, Anggota DPR RI di Komisi VII bersama utusan BPH Migas, didampingi pihak Pertamina regional Maluku dan Maluku Utara, lakukan rapat kerja sekaligus meninjau lokasi pembangunan Tanki LPG di TBBM Wayame, Ambon, Selasa (25/08/2020).

118115547_594303031257493_443067014654924129_n

Usai tinjauan, Mercy mengatakan, kita ke TBBM Wayame  meninjau pembangunan depot gas. Jadi, banker gas yang kita bangun ini, 2X1000 MT. Harapanya, dengan infrastruktur gas dan elpiji terselesaikan, maka konversi dari minyak tanah ke gas sesegera mungkin sudah bisa jalan. Untuk 2021 dari dana APBN, kita  baru bisa cover dari Indonesia timur. Tahun 2021 itu, didahului Provinsi NTT.

MERCY BARENDS - ANGGOTA DPR RI KOMISI VII

MERCY BARENDS – ANGGOTA DPR RI KOMISI VII

“ Harapannya, kalau bisa Maret  2021 infrastruktur ini dia selesai dan sudah bisa COD 2021, maka APBN 2022 sudah bisa menjawab kebutuhan konversi untuk Maluku secara resmi, di dalam batang tubuh anggaran subsudi energi 3 kg. Ini yang kita harapkan. Mudah-mudahan, dengan kehadiran depot gas yang ada di TBBM Wayame ini, bisa memberikan alternative pilihan BBM murah bagi masyarakat. Kalau selama ini , tabung-tabung elpiji kan non subsidi yang diambil dari Surabaya, Makassar. Dimana-mana harga industri tetapi kalau sudah ada disini dan bisa mengcover, harga akan terjun bebas,” bebernya.

118547566_323537628890791_5890773781587245269_n

Srikandi dari Fraksi PDI Perjuangan ini menerangkan, jika sudah terkonversi, bisa dipakai untuk kebutuhan rumah tangga ibu-ibu di dapur, kebutuhan sehari-hari, bisa untuk nelayan, converter kid, bisa  untuk petani, kontraktor gas,  sudah bisa semua alih fungsi energi dengan  harga yang jauh lebih murah, dibandingkan dengan solar yang susah di dapat dan premium yang susah didapat di waktu yang akan datang.

118071316_317325189381913_6254177240972844367_n

“ Tadi Saya memberikan usulan sangat konkrit ke BPH Migas, untuk melakukan sosialisasi sedini mungkin. Takut infrastruktur siap, stok siap, tidak ada yang beli karena perspektif masyarakat masih menganggap, gas ini BBM yang berbahaya, mudah meledak dan lain-lain. Bagaimana mensosialisasi ini, energi murah, energi bersih  dan energi yang dapat digunakan dalam jangka waktu lama . Beli 1 tabung kecil bisa bertahan berapa lama, apalagi yang 7 kg bisa 1,2,3 bulan, dibandingkan kita beli minyak tanah, atau  kita beli BBM yang lain, baru beli 1 gen, besok beli lagi,” tutur Mercy.

118161433_338165464217184_1150269711659670100_n

Dirinya menambahkan, stretching di tingkat keluarga itu sangat besar sekali. Pertama, sosilisasi. Kedua adalah, infrastruktur lanjutan di tingkat hilir. Harus dibangun SPBN yang elpiji khusus karena itu pengisian tabung  dan macam-macam, harus disiapkan dengan tingkat safety yang clear.

“ Itu  yang kita harapkan. Seluruh infrastruktur hilirnya siap, kemudian  sosialisasi berjalan ke masyarakat. Rencananya kan masih butuh waktu, memang jauh-jauh hari kita sudah dengan survei-survei yang baik, sehingga bisa dimulai dari wilayah-wilayah yang sudah maju, orang pahami. Intelektualitas pemahaman, kalau mulai dari wilayah-wilayah yang sulit kan, juga kadang kesiapan transportasi dan lain-lain cukup berat. Pemahaman masyarakat kan masih minim,” ujarnya.

Heribertus Joko Kristiadi selaku Kepala Seksi Pengaturan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak pada BPH Migas

Heribertus Joko Kristiadi selaku Kepala Seksi Pengaturan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak pada BPH Migas

Pada kesempatan yang sama, Heribertus Joko Kristiadi selaku Kepala Seksi Pengaturan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak pada BPH Migas, menerangkan, tahun 2022, rencana konversi minyak tanah ke gas. Untuk LPG, dipaparkan oleh pihak Pertamina di ruang pertemuan, dari sini sudah dalam bentuk tabung-tabung, didistribusikan sudah berbentuk tabung ke pulau-pulau, melalui kapal-kapal baik sekarang ada maupun yang diadakan.

118523081_327545545061723_866655471032162653_n

“ Itulah  nanti, di pulau-pulau didistribusikan tetapi pengisiannya ada di sini. Pengisian ke tabungnya, ini untuk storage besarnya. Dari storage besar ini, nanti kan dimasukan ke tabung-tabung semua. Kalau LPG ini sebetulnya, bukan tempatnya BPH. Karena ditanya, Saya memberikan penjelasan. Itu tupoki di Dirjen Migas . Bagaiman sosilisasi, itu adalah tugas Dirjen Migas dan pemerintah daerah, dengan Pertamina tentunya secara rutin, harus menyiapkan sosialisasi itu. Pemda dalam hal ini, mengetahui kondisi daerahnya, siapa yang harus disosialisasi. Sedangkan Pertamina, sama bahannya Dirjen Migas, regulasi nya harus bersinergi. Selama ini yang kita harus dorong, media  harus mendorong, melakukan bagaimana ketiganya bisa bersinergi, dalam melakukan sosialisasi peralihan dari minyak tanah ke LPG,” tuturnya.

117922443_819501212157180_3119410042357405730_n

Ingatnya, tadi juga dipaparkan, bagaimana biasa kita yang sudah-sudah, bertahap. Misalnya, dalam 1 kota Ambon akan kita terapkan, itu tidak serta merta 100 persen langsung dari minyak tanah ke LPG. Katakanlah sekarang 30 persen, bulan depan tambah lagi 40 persen, bertahap sampai 100 persen. Nanti, orang Pertamina menyampaikan dalam1 tahun 100 persen.

118358742_317655489291321_9022660236021772961_n

“ Jadi, tadi Pertamina menyampaikan saran ke Ibu Mercy, bagaimana direlaksasi untuk daerah ini,  menjadi 2 tahun karena kondisi geografis yang kepualaun. Kalau di tempat-tempat lain, 1 tahun selesai. Dari kita mulai, tahun depan sudah 100 persen. Kalau di sini, tadi dari Pertamina minta Ibu Mercy mendorong supaya, bagaimana bisa jadi 2 tahun karena kondisinya susah disini karena daerah kepulauan,”jelasnya.

Sedangkan, Herra Indra Wirawan selaku General Manager Marketing  Operation Region VIII Maluku dan Maluku Utara membeberkan secara rinci, secara konstruksi kita perkirakan  bulan Maret di tahun 2021 konstruksi sudah selesai. Tetapi kalau masalah konversi, nanti kami akan banyak tahapannya karena kemungkinan belum di tahun ini. Kemungkinan di tahun 2022.

Herra Indra Wirawan selaku General Manager Marketing Operation Region VIII Maluku dan Maluku Utara

Herra Indra Wirawan selaku General Manager Marketing Operation Region VIII Maluku dan Maluku Utara

“ Di tahun 2021 kan baru siap. Justru karena daerah kepulauan, konversi di Maluku kemungkinan bertahap. Nanti kami akan lakukan bertahap, tidak mungkin kami lakukan langsung minyak tanahnya di dry, tidak mungkin juga. Kita harus tahap demi tahap. Kita aja begitu, kalau pengalaman dulu juga begitu. Tidak langsung 1 kota bersih semua. Bertahap, 20 persen dulu, 50 persen, sambil  nanti di pulau-pulau ini. Karena terus terang, kita juga harus membangun infrastrukturnya juga, supaya ada SPP nya bottling LPG nya juga,” ucapnya.

Kalau konversi kemarin, akuinya, itu memang tanggung jawab di kami sebagai konsultan dan itu penugasan dari pemerintah juga. Jadi tahapannya sama konsultan kami, kami akan mendeteksi dulu siapa-siapa yang berhak mendapatkan konversi.

117990921_306401280466421_947348599124723087_n

“ Nanti tahapannya, berapa jumlah kepala keluarga yang dulu-dulu itu dapat tabung, kompor dan lain-lain. Saat ini, kami belum bisa menentukan jumlah yang konversi. Nanti akan dilakukan survei dulu, mana yang bisa duluan. Kami tidak berani gegabah dan terus mencabut minyak tanah  dan ini sangat sensitive. Orang belum siap, kita cabut. Ini masalah. jadi masyarakat santai saja, tidak perlu panik, belum  waktunya saat ini. Tetapi, kalau ada nanti kami akan lakukan secara bertahap. Jadi tidak ada yang disusahkan,” kata Wirawan.

Sekedar tahu, selain  Mercy Barends, utusan BPH Migas dan pihaqk Pertamina, turut meninjau, Fauzan Khatib yang menjabat Kepala Dinas ESDM provinsi Maluku. (IN06)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top

This site is protected by wp-copyrightpro.com