Agama

Kerja Bakti di Gereja Ohoidertawun, Bupati Malra Ajak Warga Lestarikan Budaya Maren

IMG-20200702-WA0085

MALRA,MALUKU – Bupati Maluku Tenggara (Malra), M. Thaher Hanubun, melakukan kunjungan kerja ke Ohoi (desa-red) Ohoidertawun. Kunjungan kerja orang nomor 1 di kabupaten yang berjuluk Larwul Ngabal tersebut, sebagai bentuk dukungan moril dalam percepatan proses pembangunan gedung baru gereja Elim, Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Ohoidertawun, Kamis (02/07/2020).

Pantauan INTIM NEWS, Bupati dalam kesempatan tersebut mengajak pimpinan OPD dan ASN lingkup Pemda Malra, dibantu puluhan personil TNI dari Kodim 1503 serta Koramil yang dipimpin langsung oleh Dandim 1503/Malra, Letkol. Inf. Mario Christian Noya, Ketua dan Sekretaris Klasis Pulau-Pulau Kei Kecil dan Kota Tual, anggota APEK serta melibatkan gabungan warga Muslim yang dipimpin Imam Mesjid Ohoidertawun, turut dalam aksi Maren pengecoran lantai bangunan gedung gereja tersebut.

Muhammad Thaher Hanubun - Bupati Kabupaten Maluku Tenggara

Muhammad Thaher Hanubun – Bupati Kabupaten Maluku Tenggara

Bupati, ditemui awak media di lokasi kerja bakti tersebut menyampaikan, ketika pemerintah bergabung bersama pemimpin umat yakni Pendeta, Pastor, Imam dan para Raja selaku pimpinan masyarakat adat, harus bersatu kompak dalam segala hal, maka sudah tentu akan sangat berdampak, baik bagi pembangunan dan kemaslahatan umat serta masyarakat di bumi Larwul Ngabal.

” Para pemimpin umat memiliki visi dalam pembangunan sarana ibadah yang representatif, namun terkendala dengan biaya, maka pemerintah wajib hadir untuk membantu. Selain itu yang lebih penting adalah, ketersediaan dan penyelesaian lahan sehingga dalam prosesnya, semua dapat berjalan dengan baik dan lancar,” ujar Bupati.

Dalam kebijakan anggaran Pemda Malra, jelasnya, tidak lagi memberikan bantuan dalam bentuk proposal, dengan nilai Rp25-50 juta. Menurutnya, dengan bantuan sekecil itu, tentu hasilnya tidak maksimal. Kecuali, jika itu dibutuhkan untuk pekerjaan perbaikan.

” Untuk pembangunan sarana ibadah baik gereja maupun masjid yang baru, maka Pemda menganggarkan Rp1 sampai 2 miliar dan ini sudah berjalan sejak tahun anggaran 2019/2020. Tinggal bagaimana, peran serta masyarakat untuk bersama-sama membantu, sehingga proses pembangunan sarana-sarana ibadah, diharapkan cepat selesai,” katanya.

Bupati ambil contoh, gedung gereja Ohoidertawun ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) anggarkan Rp 1 miliar pada tahun 2020 ini, maka pemkab bertanggung jawab dalam mendorong penyelesaiannya. Karena bantuan tidak bisa diberikan secara terus menerus, tetapi hanya sekali.

Lebih lanjut Bupati menjelaskan, aksi kerja Maren bersama, sudah sering Ia lakukan ke beberapa lokasi pembangunan rumah ibadah, baik gereja maupun masjid di wilayah itu, secara bersama-sama.

IMG-20200702-WA0086

Hal ini sebutnya, sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab, sekaligus untuk membuka wawasan masyarakat agar lebih memaknai semangat kebersamaan yakni Maren (gotong-royong), sebagai wujud cinta kasih yang di turunkan oleh Ieluhur sebelumnya, agar satu sama Iain hidup rukun dan saling membantu, tanpa memandang status, agama dan sosial.

” Saya mau tegaskan kepada kita masyarakat Kei, kemarin, hari ini dan yang akan datang, kita hanya berbeda dalam keyakinan. Ketika kita melaksanakan ibadah ke Mesjid atau Gereja, itu yang membedakan kita. Namun tradisi orang Kei “Maren” (gotong royong) harus kita lestarikan. Jika ada pekerjaan pembangunan Mesjid atau Gereja, maka semua harus terlibat ikut bekerja. Ini semangat kebersamaan yang harus kita bangkitkan kembali,” tegas Bupati.

Pada kesempatan itu, Bupati mengimbau kepada seluruh masyarakat Malra, lebih khusus panitia pembangunan sarana ibadah, agar selalu transparan dalam hal keuangan. Selain itu, persoalan lahan lokasi rumah ibadah, agar sebelum dibangun terlebih dahulu dibebaskan dan sah secara hukum.

” Yang paling penting adalah, kebersamaan dan fangnanan( cinta kasih semua) . Pemerintah siap untuk membantu tetapi, keterlibatan donatur dan masyarakat juga harus ikut andil. Selain itu, setiap pekerjaan jangan lalu diserahkan semuanya ke tukang. Ini kebiasaan kita. Oh, sudah ada uang bantuan itu, jadi biarkan tukang saja yang bekerja. Akhirnya, bangunan jadi macet dan terbengkalai,” pungkasnya. (IN-09)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top

This site is protected by wp-copyrightpro.com