Kesehatan

Isolasi di RSUD Maren Tual, Pasien Korona EM dan SLJ Punya Riwayat Penyakit Dalam

IMG_20200625_211347

TUAL,MALUKU – Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kota (Pemkot) Tual, dr. Betty Zubaedah, dalam keterangan persnya mengakui, 2 warga Kota Tual inisial EM (52) jenis kelamin laki-laki dan SLJ (43) jenis kelamin perempuan, terkonfirmasi positif Covid-19 (virus korona-red).

” Berdasarkan hasil swab/PCR, 2 orang inisial EM usia 52 tahun laki-laki dan SLJ 43 tahun perempuan, terkonfirmasi positif Covid-19,” tuturnya, Kamis pagi (25/06/2020) di Ruang Rapat Pemkot Tual, kepada sejumlah wartawan.

Secara terpisah, dikonfirmasi INTIM NEWS, Kamis (25/06/2020), melalui sambungan telepon selular, Mochsen Ohoiyuf yang menjabat Kabag Humas Pemerintah Kota Tual menyebutkan, 2 pasien memiliki riwayat penyakit dalam. Per tanggal 18 Juni 2020, keduanya akan melakukan perjalanan ke luar daerah. Namun, berdasarkan protap harus rapid test dan hasilnya positif. Alhasil, tidak bisa
melakukan perjalanan.

Mochsen Ohoiyuf - Kabag Humas Pemkot Tual

Mochsen Ohoiyuf – Kabag Humas Pemkot Tual

” EM dan SLJ memiliki riwayat penyakit dalam. Keduanya bukan pelaku perjalanan tetapi akan melakukan perjalanan. EM berprofesi sebagai Dokter Praktek dan SLJ adalah ASN pada Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara. Keduanya, domisili di Kota Tual. Namun, EM dan SLJ akan melakukan perjalanan keluar daerah tetapi rapid test reaktif, pihak Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Tual lakukan swab dan sampelnya kirim ke Ambon dan baru diketahui terkonfirmasi positif virus korona kemarin, Rabu (25/06/2020) dan diumumkan tadi melalui konferensi pers. Sejak tanggal 18 Juni 2020 sampai hari ini, keduanya isolasi di RSUD Maren Tual dan dalam kondisi kesehatan, baik.

Mochsen menerangkan, EM dan SLJ pernah keluar daerah dan kembali pada bulan Maret 2020 lalu, sebelum ramai virus korona jadi tidak bisa dikatakan pelaku perjalanan.

Disinggung beredar surat rekomendasi Walikota Tual, Adam Rahayaan, terkait persetujuan keberangkatan EM untuk berobat gunakan pesawat militer milik TNI Angkatan Udara, Ia membenarkan terkait surat rekomendasi tersebut.

” Surat Pak Walikota betul ditujukan kepada Panglima Komando Operasi III di Biak, atas permintaan EM yang akan melakukan perjalanan. Waktu itu, beliau minta sebagai persyaratan karena dari pihak Lanud minta rekomendasi kepala daerah sebagai salah 1 syarat. Kalau tidak ada rekomendasi, penumpang atau orang-orang yang punya tujuan mendesak itu, tidak bisa berangkat, ada rekomendasi sebagai syarat baru bisa berangkat. Karena surat itu tidak punya masa kadaluarsa, jadi minta tanggal 18 Juni. Setelah kantongi surat, saat rapid test hasilnya reaktif, maka otomatis tidak bisa melakukan perjalanan. Jadi surat itu, entah siapa yang foto di bandara dan siapa yang edarkan, kami tidak tahu,” ungkapnya.

Jelasnya lagi, sama halnya dengan SLJ, ASN Kabupaten Malra itu, sudah ada rekomendasi dari Bupati tetapi tidak tersebar suratnya. SLJ domisili di wilayah Kota Tual. Mereka isolasi di RSUD Maren karena kebetulan sudah ada ruang isolasi, dokter penyakit dalam juga ada disana untuk melayani. Mereka dalam kondisi membaik. Mudah-mudahan, cepat sembuh karena nantinya sampel swab berikutnya dikirim untuk diuji kembali.

Mochsen sesalkan, beredar surat dari Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, yang ditandatangani oleh Meykal Pontoh yang menjabat Kepala Dinas. Isi surat yang bocor di salah 1 sosial media (sosmed) Facebook, menjelaskan hasil PCR 2 warga Kota Tual tersebut beredar nama lengkap kedua pasien dan tempat isolasi mereka.

IMG-20200625-WA0029

” Kami sesalkan surat kepala Dinas Kesehatan provinsi Maluku bisa bocor ke publik melalui postingan di salah 1 media sosial yaitu Facebook. Ada oknum dokter yang tidak bisa menjaga kode etik sumpah dia sebagai seorang Dokter di Ambon. Hasil itukan keluar dari Ambon. Kecolongan dari pihak Dinkes Maluku yang sangat kami sayangkan, kenapa bisa bocor keluar beredar di sosmed? Kan itu menakut-nakuti orang kalau memang ini tidak bisa disembuhkan lagi, karena belum secara resmi disampaikan dan dikirim ke kita tetapi sudah beredar di medsos, apalagi nama lengkap dengan hasil kok bisa? Pasti orang-orang disitu, nama dan alamat rumah sakit lengkap, kami di Gustu Kota Tual saja hanya sebut inisial,” herannya dengan kekesalan.

Ia menambahkan, sikap Gustu yang paling penting masih fokus ke pencegahan, bagaimana upaya langkah cepat untuk penanganan dan pemahaman, baik secara medis maupun psikologis, terhadap pasien yang terkonfirmasi, keluarga dan masyarakat.

Pencegahan dan pemahaman, kata dia, terkait virus ini seperti apa, sehingga tidak ada jarak sosial yang terlalu berlebihan karena, dampaknya pasti secara psikologis berpengaruh ke pasien dan ujung-ujungnya menurunkan daya tahan tubuh mereka kalau memang mereka stress dan lain-lain.

” Intinya sekarang, jangan masyarakat panik dan melaksanakan langkah-langkah pencegahan sesuai protokol kesehatan yang ditetapkan,” ucap Mochsen. (IN09)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top

This site is protected by wp-copyrightpro.com