Berita Parlemen

Insun Sangadji : Penerimaan Siswa Baru, Jangan Diskriminasi Anak Pejabat

IMG-20200629-WA0071

AMBON,MALUKU – Disela-sela Rapat Koordinasi antara Komisi IV DPRD dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Insun Sangadji yang menjabat Pelaksana Tugas Kepala Dinas (Kadis) mengatakan, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2020 ini pada tingkatan SMA sederajat, jangan ada diskriminasi bagi anak pejabat dengan masyarakat lainnya.

” Penerimaaan siswa baru, jangan diskriminasi anak pejabat. Selama ini kalau 1 anak pejabat di terima di 1 sekolah, pasti di sorot. Kenapa kalau anak pejabat bisa diterima, kenapa yang lain tidak?. Memang anak pejabat kenapa? Kan tidak boleh seperti itu. Mereka semua, baik anak pejabat, orang biasa, semua punya hak yang sama untuk sekolah di sekolah-sekolah unggulan,” ungkap Kadis, Senin (29/06/2020) di Kantor DPRD Maluku.

Kadis meyakini, teman-teman (kepala sekolah -red) di sekolah itu, mereka sudah cukup transparan. Kalau ada anak pejabat yang diterima karena memang mereka mampu, bukan karena ada titipan dan sebagainya. Tidak boleh seperti itu. Supaya semua orang cobalah melihat dari sisi positif.

Insun Sangadji - Plt Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku

Insun Sangadji – Plt Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku

Menurutnya, kalau sekarang anak pejabat tidak boleh sekolah disini dan disitu, lalu mau sekolah dimana? Ini keadaan lagi Covid-19, mereka tidak bisa keluar Ambon lagi, terpaksa mereka sekolah disini. Tetapi, tentu saja dengan test. Mereka mau masuk sekolah apapun silahkan, yang penting harus lulus tes.

” Jadi saya cuma mau masyarakat cobalah sedikit fair. Kasih juga ruang buat anak-anak pejabat, misalnya bisa sekolah di SMA 1, kenapa ? Supaya bisa belajar. Yang penting mereka bisa belajar. Ikut aturan, mereka test. Kalau tidak lulus, ya sudah, tidak usah di luluskan,” tuturnya.

Sebut Insun, kita sudah bicarakan bersama ke depannya nanti, kita akan atur dengan DPRD, tes itu betul-betul sistemnya bagus, supaya tidak ada lagi kecurigaan .

” Saya senang seperti itu supaya ke depan, akan buat tes seperti perguruan tinggi. Jadi anak-anak 1 kali tes, 3 pilihan, pertama, kedua dan ketiga. Tentunya, dengan standar nilai yang sudah disepakati bersama, nilainya seperti apa, nanti kita bicarakan lagi,” bebernya.

Yang jelas, tambah Kadis, mulai dari tahun 2020 ini sampai ke depan, semua itu akan dibuat transparan. Supaya semua orang puas.

” Sekarang pasti ada anak-anak yang tidak puas, ada yang tidak di terima di SMA 1 atau SMA 2, itu biasa. Tetapi, ketika dia kembali ke sekolah dan dia melihat hasilnya, dia langsung diam dan tenang. Karena dia pada awalnya , berpikir soalnya mudah, kenapa saya tidak diterima, saya bisa bikin tetapi dia melihat hasilnya, dia kaget sendiri,” ujarnya. (IN06)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top

This site is protected by wp-copyrightpro.com