Maluku

33 Persen Guru di Indonesia Terpapar Isu-Isu Ekstrimisme

IMG-20200212-WA0082

AMBON,MALUKU – Berdasarkan data tahun 2018, dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN), disebutkan, 33 persen guru di Indonesia terpapar isu-isu ekstrimisme.

Hal ini terungkap dari bahan resmi yang didistribusi oleh lembaga MPR RI dan dipaparkan oleh Mercy Barends, Rabu (12/02/2020), disela- sela Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan oleh Mercy dihadapan ratusan siswa-siswi SMAN 1 Ambon.

IMG-20200212-WA0086

” 33 persen guru anjurkan berperang wujudkan negara Islam. Sumber data dari PPIM UIN tahun 2018. Data ini, bahan yang secara resmi didistribusi oleh lembaga MPR RI kepada seluruh Anggota MPR dan DPR. Jadi, tidak ada perbedaan isi materi. Ini materi punya Saya sendiri, oh, tidak. Seluruh data-data yang dipaparkan, itu sudah berdasarkan uji hasil riset, dari lembaga- lembaga. Yang terpapar misalnya, di tubuh TNI misalnya, itu data resmi yang diambil dari Menhan. Dan itu kita sampai kan, sumber data ya darimana. Di kalangan PNS, kemudian di kalangan kampus ada 7 kampus besar. Kemudian, di kalangan guru, berapa banyak guru misalnya terpapar isu-isu ekstrimisme.

Kendati demikian, bukan hanya di kalangan guru. Dampak ketidakhadiran negara dalam pembinaan mental ideologi bangsa juga ada di tubuh TNI. TNI ada 3 persen Anggota TNI terpapar ekstrimisme. Sumber data dari Menhan Ryamizard Ryacudu.

IMG-20200212-WA0085

Selain itu, sumber dari BNPT di tahun 2018, 7 kampus di Indonesia, terpapar ekstrimisme agama. Kalangan mahasiswa, 36,5 persen mahasiswa kampus Islam, setuju khilafah. Sumber survei oleh Cisfrom di tahun 2018. Sedangkan, di kalangan PNS, berdasarkan sumber survei Alvara di tahun 2018 disebutkan PNS 19,4 persen, PNS tidak setuju Pancasila .

” Data-data itu tadi, kita hanya mengungkapkan faktanya. Bahwa, terorisme bukan ada di Jawa, terorisme bukan ada di kelompok-kelompok di kasat mata, terorisme ada di depan mata kita. Paham radikalisme ada di sekeliling kita. Dan itu kan, akar nya dari pemahaman dan sikap intoleransi. Itu bahaya sekali,” bebernya.

IMG-20200212-WA0083

Anggota Legislatif perempuan dari PDI Perjuangan ini menuturkan, begitu muncul paham intoleransi di diri kita, kita tidak bersepakat dengan perbedaan. Kita tidak menghargai perbedaan, kemudian dia termanifestasi di dalam tindakan-tindakan radikal bahkan, terorisme yang sangat kriminal.

” Untuk mengisi kekosongan peran negara dalam membentuk mental dan ideologi bangsanya, Haji Muhammad Taufiq Kiemas sebagai Ketua MPR RI periode 2009-2014, merancang dan melaksanakan agenda pemantapan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara, yang dilakukan melalui sosialisasi empat pilar kebangsaan,” ingatnya. (IN06)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top

This site is protected by wp-copyrightpro.com