Ekonomi

BI Maluku Gandeng Wignyo Rahadi Tampilkan 20 Outfit Kain Tanimbar Di PTBI 2019

IMG-20191212-WA0028

AMBON,MALUKU – Kantor Perwakilan (Kpw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku, menggandeng designer nasional yakni Wignyo Rahadi, menampilkan 20 outfit berbahan dasar kain tenun Tanimbar, pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2019, di salah satu hotel di Kota Ambon, Kamis (12/12/2019).

Pantauan INTIM NEWS, diluar dugaan, model yang mengenakan outfit tersebut bukan dari kalangan model profesional, melainkan para isteri perbankan di Maluku.

” Fashion show pada PTBI 2019 oleh Bank Indonesia Maluku dibuat 20 outfit. Semua digunakan oleh isteri-isteri yang tergabung dalam persatuan perbankan di Maluku. Tadi Ibu Widya Murad Ismail selaku Ketua Dekranasda Maluku, juga tampil menggunakan busana yang Saya design, menggunakan tenun,” kata Wignyo, saat diwawancarai awak media usai acara PTBI.

Wignyo Rahadi - Designer

Wignyo Rahadi – Designer

Dirinya menuturkan sangat senang dengan ibu-ibu yang semangat. Untuk kali ini, kenapa saya memilih menggunakan isteri-isteri perbankan? Mereka relatif fashionable dibanding masyarakat umum.

Ibu-ibu ini sudah tampil memakai kain tenun, harapan Saya, masyarakat yang lain melihat dan mereka ingin mengikuti . Apalagi Ibu Widya yang sehari-hari sudah menggunakan kain tenun. Ini merupakan daya tarik tersendiri, buat masyarakat.

” Yang jadi model ini luarbiasa semangat. Bahkan ada yang hamil. Jadi persepsi bahwa kain tenun itu cantik, kalau digunakan oleh model, itu harus kita hilangkan. Kalau model sudah cantik. Dari segi proporsional badannya, sehingga ibu-ibu tidak pede. Dengan mencontohkan ibu-ibu yang tadi tampil, ada yang langsing, ada yang kurang langsing, bahkan ada yang gemuk. Lebih ingin mensosialisasikan, orang mengenal kain tenun itu, dipakai siapapun cantik,” ujarnya.

Dia mengakui, kebetulan sebagai designer di Jakarta, memang mitra dengan Bank Indonesia. Saya bermitra bukan hanya dengan BI Maluku tetapi sudah dengan perwakilan BI di beberapa daerah.

” Saya sebagai mitra, memang sudah berjalan, sangat tertarik sekali dengan keragaman daripada tenun di Maluku. Karena Maluku sebelumnya lebih dikenal dengan Tanimbar tetapi ini juga ada beberapa tenun. Malahan, belum terangkat dan mempunyai keunikan serta potensi yang bagus sekali untuk diangkat,” sebutnya.

IMG_20191212_110706

Untuk pemilihan warna dasar outfit dominan warna coklat keemasan pada fashion show disela-sela PTBI 2019 tersebut, Wignyo menerangkan, warna dominan harus berbeda. Tidak terikat dengan warna-warna tradisionil. Harus lebih modern.

” Konsep tadi dengan warna keemasan, itu supaya tenun yang selama ini kan hitam, merah, biru saja. Kebanyakan seperti itu. Sangat tradisional. Itu tidak salah. Ada pasarnya. Tetapi bagaimana kita menampilkan sesuatu yang baru, supaya masyarakat juga bisa melihat, bahwa tenun yang dikenal sekarang ini , ternyata punya warna yang sangat menarik. Lebih modern, bisa diterima oleh semua kalangan,” jelasnya.

Selain itu, ungkapnya lagi, keberadaan Saya tentunya bagaimana membuat kain tenun itu lebih menarik dan lebih nyaman.

Salah satu UKM dibawah binaan Kpw BI Maluku

Salah satu UKM dibawah binaan Kpw BI Maluku

” Saya sebagai designer tentu tidak hanya membuat kain tetapi bagaimana membuat busana yang lebih menarik,” tandasnya.

Kendati demikian, tambah Wignyo, lebih penting bagaimana mengarahkan para UKM, para pengrajin membuat kain tenunnya lebih baik, lebih sabar, mau menggunakan benang yang lebih kecil, tidak menggunakan rangkap benang yang banyak sehingga, menjadi tebal dan kaku.

” Kendalanya hanya disitu. Tetapi, sudah bisa diatasi dengan berjalannya waktu, hasilnya sudah bagus-bagus,” pujinya. (IN06)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top

This site is protected by wp-copyrightpro.com