Agama

Pedagang Tikar Panen Rejeki Di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon

IMG-20190531-WA0047

AMBON,MALUKU – Mahalnya tiket pesawat, banyak memilih alternatif mudik menggunakan Kapal Pelni. Alhasil, membuat pemudik memadati Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon yang akan pulang kampung merayakan Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah tahun 2019 ke luar Kota Ambon.

Pantauan INTIM NEWS, Kamis dini hari (31/05/2019) saat dua Kapal Pelni Ngapulu dan Ciremai berlabuh dan akan lepas landas, Pedagang Tikar yang berjualan di kawasan pelabuhan Yos Sudarso Ambon, panen rejeki . Pasalnya, penumpang yang hendak mudik, membeli tikar sebagai pengalas tempat tidur bagi penumpang yang tidak kebagian tempat tidur di kapal, selama perjalanan sampai tujuan.

“Hari ini bisa dibilang, Saya dan teman-teman panen rejeki dari hasil menjual tikar untuk penumpang yang akan berangkat, baik  menuju Banda, Tual sampai ke Papua maupun yang akan berlayar menuju Bau-Bau, Makassar sampai ke Jakarta,” kata salah seorang pedagang tikar bernama Lariha.

Lariha merincikan, tikar dengan ukuran 1,20 meter X 1 meter yang sudah laku sebanyak 40 buah, dengan harga Rp10.000/buah, sangat menguntungkan.

IMG-20190531-WA0046

Kalau dihitung-hitung, sebutnya, keuntungan yang diperoleh sebesar Rp160.000. Karena, tikar yang dibeli dari orang di atas kapal, dalam bentuk kodi yang isinya 20 buah dengan harga Rp120.000 per kodi. Dengan demikian, harga eceran Rp6.000 per buah dan dijual Rp10.000 per buah.

“Jadi, kalau kapal penumpang milik PT.Pelni masuk Ambon, sudah pasti ada ABK yang membawa tikar tersebut baik dari Surabaya maupun Jakarta untuk dijual ke daerah-daerah, salah satunya Ambon,” ujarnya.

Biasanya, tutur Lariha, kalau situasi normal dan belum terjadi arus mudik seperti sekarang ini, hanya mencapai 15-20 buah tikar saja, tergantung penumpang yang mau membeli, namun sekarang ini cukup banyak , sebab banyak pula penumpang yang merebut tempat tidur di kapal.

Dia mengaku, sudah tiga tahun dirinya menekuni bisnis jualan tikar, sebelumnya menjadi buruh pelabuhan.

” Saya sudah tua, tidak mampu lagi untuk memikul barang, akhirnya mengambil keputusan untuk menjual tikar. Saya asal Bau-Bau, Sulawesi Tenggara dan bekerja sebagai buruh di pelabuhan Yos Sudarso Ambon kurang lebih 20 tahun, sudah beristri dan mempunyai dua orang anak,” kata pria yang bermukim di desa Batu merah itu. (IN06)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top

This site is protected by wp-copyrightpro.com