Ekonomi

OJK Perkuat Kerjasama Dengan Kemendagri Dan PPATK

IMG-20190219-WA0006

JAKARTA,INTIM NEWS – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) , terus memperkuat tugas dan kewenangannya dalam memajukan industri jasa keuangan serta, mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang, melalui kerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Informasi yang terima INTIM NEWS, dari Humas OJK Perwakilan Maluku, penandatanganan Nota Kesepahaman antara OJK dan Kemendagri serta OJK dengan PPATK, di lakukan di Gedung Chandra Kompleks Bank Indonesia (BI) , di Jakarta, Selasa (19/02/2019).

Diketahui,Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dan Ketua PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin,menjadi penandatangan Nota Kesepahaman tiga lembaga tersebut.

Wimboh Santoso dalam sambutannya mengatakan, OJK perlu melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengoptimalkan fungsi dan tugas, dalam pengaturan dan pengawasan- pengawasan sektor jasa keuangan serta, edukasi dan perlindungan konsumen keuangan.

“Untuk bisa efektif dan efisien, Kami harus berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Mahkamah Konstitusi dan juga PPATK,” tuturnya.

Sebutnya,Nota Kesepahaman OJK dan Kemendagri, merupakan pembaruan dari kesepahaman sebelumnya yaitu tentang, “Pemanfaatan Nomor Induk Kependudukan, Data Kependudukan dan Kartu Tanda Penduduk Elektronik ,Dalam Lingkup Tugas Otoritas Jasa Keuangan” dan tentang, “Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan Serta Perlindungan Konsumen, Melalui Optimalisasi Peran Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah”.

Wimboh membeberkan,ruang lingkup Nota Kesepahaman OJK dan Kemendagri yang baru mencakup,pertama, pemanfaatan data kependudukan, nomor induk kependudukan dan kartu tanda penduduk eletronik oleh OJK dan lembaga yang diawasi OJK dengan prinsip kesetaraan.

Kedua,peningkatan literasi dan inklusi keuangan serta, perlindungan konsumen di tingkat pusat maupun daerah. Ketiga, pelaksanaan Undang-Undang nomor 1 tahun 2013 tentang, lembaga keuangan mikro.

Keempat,pemanfaatan produk dan/atau jasa keuangan, dalam rangka pendalaman pasar keuangan dan pembiayaan di daerah.Kelima,
pendirian dan pengembangan lembaga penjamin di daerah.Keenam,dukungan para pihak, dalam pengawasan dan sinkronisasi kebijakan,terkait dengan lembaga jasa keuangan milik pemerintah daerah.

IMG-20190219-WA0007

Ketujuh,pelatihan sumber daya manusia.Kedelapan,bidang kerja sama lain yang disepakati para pihak,sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Wimboh terangkan lagi, akses data kependudukan sangat penting bagi perkembangan industri jasa keuangan, diantaranya, untuk keperluan pembukaan rekening simpanan, pinjaman maupun rekening efek, karena verifikasi data kependudukan, menjadi lebih efisien dan akurat.

Selain itu,paparnya, OJK mengharapkan kerjasama dengan Kemendagri, bisa mempercepat Bank Pembangunan Daerah (BPD),dalam mengimplementasikan Program Transformasi BPD.Antara lain, meliputi penguatan organisasi dan Sumber Daya Manusia (SDM), pendalaman produk dan peningkatan kualitas layanan, penerapan tata kelola dan pengendalian resiko, serta pengembangan teknologi dan sistem informasi.

Mengenai Lembaga Keuangan Mikro,dia menuturkan, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 1 tahun 2013 tentang, Lembaga Keuangan Mikro, OJK juga mengharapkan peran pemerintah daerah dalam melakukan pembinaan dan pengawasan lembaga keuangan mikro,yang jumlahnya banyak dan tersebar.

OJK juga menegaskan,kata dia, pentingnya efektifitas peran Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah yang dipimpin oleh pemerintah daerah. Saat ini ,telah terbentuk 73 TPAKD yang tersebar di 31 provinsi dan 42 Kabupaten dan Kota.

“Kami dengan bantuan Kemendagri, untuk bersama-sama merevitalisasi peran TPAKD ini, agar lebih efektif lagi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah ,melalui tersedianya akses keuangan masyarakat di daerah,” ungkap Wimboh.

Selain itu,jelasnya,OJK juga meminta dukungan Kemendagri ,dalam pelaksanaan berbagai program inklusi keuangan di daerah seperti,Bank Wakaf Mikro dan BUMDES Center, serta mendorong rencana penerbitan obligasi daerah agar, dapat terealisasi sebagai salah satu alternatif pembiayaan pembangunan daerah.

Diketahui,Nota Kesepahaman dengan Kemendagri ini ,dilanjutkan dengan Penandatanganan Kerjasama dalam dua bidang, yaitu, pemanfaatan data kependudukan dan kerjasama peningkatan literasi dan inklusi keuangan.

Sementara, untuk Nota Kesepahaman antara OJK dan PPATK, merupakan perpanjangan dari kesepakatan sebelumnya. Kerjasama antara OJK dengan PPATK, merupakan bentuk sinergi dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme, sekaligus upaya meningkatkan integritas dan kredibilitas sistem keuangan Indonesia.

Juga,OJK sebagai Lembaga Pengawas dan Pengatur di sektor jasa keuangan, berkomitmen penuh untuk terus mendorong penguatan pengawasan bidang Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU PPT) serta,penguatan penerapan program APU PPT, oleh pelaku industri jasa keuangan.

Selain itu,OJK juga telah membentuk Grup Penanganan APU PPT sejak tahun 2016 ,untuk memberikan dukungan penuh dalam pelaksanaan koordinasi, pengembangan ketentuan, kerja sama, pengkajian, serta pemberian rekomendasi terkait APU PPT sektor jasa keuangan.
(IN06)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top

This site is protected by wp-copyrightpro.com