Agama

Jika Agama Jadi Alat Politik ,Menjadi Awal Mula Bencana

46310782_2181662005384183_7196485839256289280_n

AMBON,MALUKU – Salah satu politisi asal PDI Perjuangan Maluku Benhur.G.Watubun mengungkapkan,jika agama digunakan sebagai alat politik,maka itu awal mula dari bencana.Ungkapan ini disampaikan oleh Benhur,Kamis malam (15/11/2018) kepada INTIM NEWS melalui sambungan telepon selular.

“Agama dan politik itu,dua hal yang berbeda dan saling bertolak belakang.Tetapi,memang harus  bersinergi.Kalau membangun suatu bangsa atau daerah sebenarnya,peran di bidang agama dan politik itu, minimal dia harus bersinergi dengan membicarakan hal yag positif tentang pembangunan bangsa.Tetapi jika berbicara soal kepentingan,digunakan sebagai alat untuk menyusun  masuk di wilayah poltik,maka sebenarnya itu awal mula dari bencana,”ungkap Benhur.

Salah satu putra daerah Maluku Tenggara-Kota Tual ini menilai,yang akan dialami oleh daerah tersebut,misalnya daerah seperti Maluku ini,paling rentan terhadap isu-isu SARA,paling penting itu soal agama.Karena  itu,ajaknya,kita harus berhati-hati mengelola isu.Katakanlah,pimpinan agama itu,dia harus menyampaikan seruan-seruan yang sifatnya pastoralia,artinya memberi nasihat atau juga memberi arahan ,bimbingan dalam kerangka moral dan etika supaya, menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa,dalam berpolitik.

46296197_2186290318252767_6091235615481790464_n

“Tetapi, kalau misalkan agama diperalat untuk  mempengaruhi orang, kemudian membangun kebencian atau mengujar kebencian kepada  orang lain dan menganggap agamanya benar,agama yang lain adalah salah,maka disitulah kita akan  melihat ,bahwa awal mula gesekan dan juga akan terjadi hal yang berdampak buruk, terhadap pembangunan poltik satu daerah.Jadi,pembangunan politik itu harus didasarkan pada nilai-nilai agama,nilai-nilai adat,nilai –nilai budaya,tetapi bukan memanfaatkan agama untuk mencerai-beraikan,atau dapat membedakan orang dan dapat membuat orang  harus berpisah karena faktor-faktor kepentingan agama,”himbaunya.

Sebenarnya,masih kata Benhur yang saat ini mencalonkan diri sebagai calon legislative menuju kursi DPRD Provinsi Maluku daerah pemilihan enam ini ,tergantung sudut pandang dimana pemimpin,  dia harus menggunakan atau harus melibatkan peran semua unsur-unsur di dalam  membangun daerah.Ujarnya,membangun tidak  bisa menggunakan agama sebegai alat politik.Misalnya, kita memilih si A karena agama,kita memilih si B karena agama.Atau, kita jangan memberi jabatan kepada orang tertentu, karena agama berbeda dengan kita.Itu cara yang salah dalam menggunakan isu agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Agama itu,kita pergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan kemanusiaan,maka sebenarnya disitulah kita akan menemukan adanya stabilitas politik yang dilaksanakan secara baik,atau berlangsung secara baik, di dalam aktifitas keseharian kehidupan berbangsa dan bernegara.Pesan-pesan tokoh agama itu pesan moral,bukan pesan praktis,agama itu tidak  boleh dimanfaatkan masuk ke wilayah praktis,apalagi soal dukung mendukung,itu berbahya,”tandasnya.

46456444_285001368812176_603337734223822848_n

Disinggung, salah satu studi kasus pemilihan kepala daerah di Kabuapetn Maluku Tenggara tahun ini,Benhur sangat menyayangkan kejadian tersebut.Benhur katakan lagi,paling terkini soal pilkada Maluku Tenggara.Kedua calon yang kebetulan beragama Katolik,satu Muslim.Tetapi kemudian Uskup,memberi surat gembala,meminta umat untuk memilih salah satu calon,maka coba lihat apa hasilnya,kalah dan orang tercerai- berai.

Menurut Benhur yang lebih akrab disapa BGW tersebut,itu sangat berbahaya,apalagi untuk hal-hal yang sifatnya sensitive.Urusan politik ini  partisipasi semua orang,tanpa membedakan suku dan agama.Jadi ibaratnya,suara  seorang rohaniawan itu sama dengan hak suara seorang preman,dua-dua masih memiliki hak suara yang sama untuk menentukan kelangsungan proses politik, ambil misal dalam proses pemilihan.

“Tetapi peran tokoh agama dalam menyampaikan pesan moral adalah,dia meminta masyarakat harus menjaga keamanan, kedamaian,menjaga kerukunan,menciptakan suasana nyaman dan tentram.Beda kalau preman itu, mengajak orang secara kasar,mengancam,mendesak secara berlebihan,meneror dan seterusnya.Jadi kira-kira contoh pilkada Maluku Tenggara itu,sudah diwanti –wanti untuk jangan ada campur tangan gereja yang berlebihan disitu.Mestinya menyatakan suara kedamaian ,menyatakan suara orang per orang ,bukan dukung- mendukung,”ucap Benhur. (IN06) 

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top

This site is protected by wp-copyrightpro.com