Pemerintahan

Dinas Ketahanan Pangan SBT Gelar Workshop Peningkatan Kapasitas Pendamping dan Fasilitator Desa

44437739_528231184315727_8172887937503985664_n

Bula, Maluku- Pemahaman tentang desain pengembangan sentra dalam sebuah kawasan bisnis perlu dipahamai dengan benar oleh pendamping dan fasilitator desa tentang desain pengembangan sentra bisnis. Desain pengembangan sentra bisnis perlu dipahami secara utuh dengan mengintregrasikan seluruh sumber daya yang tersedia untuk mendorong pengembangan sentra.

Demikian kata kepala kepala dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Seram Bagian Timur, Mirnawati Derlen dalam sambutannya saat membuka kegiatan workshop peningkatan kapasitas pendamping dan fasilitator desa yang digelar di Sigafua resto and caffe Senin, (14/10/2018).

Dikatakan, dengan demikian  pengelolaan potensi sumber daya tersedia benar benar dapat dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola usaha bisnis yang mampu memberikan nilai ekonomis bagi pengembangan dan kesejateraan masyarakat.

Menurutnya, SOLID (Smallholder Livelehood Development Project In Eastern Indonesia) dan replikasinya di Kabupaten Seram Bagian Timur Adalah dalam rangka membekali pendamping dan fasilitator terhadap pengembangan sentra bisnis sesuai potensi tersedia pada masing masing wilaayah.

Pemahaman tentang desain pengembangan sentra dalam sebuah kawasan bisnis perlu dipahamai dengan benar oleh pendamping dan fasilitator desa tentang desain pengembangan sentra bisnis.

Oleh karena itu, desain pengembangan sentra bisnis perlu dipahami secara utuh dengan mengintregra sikan seluruh sumber daya yang tersedia untuk mendorong pengembangan sentra.

Dengan demikian pengelolaan potensi sumber daya tersedia benar-benar dapat dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip tatakelola usaha bisnis yang mampu memberikan nilai ekonomis bagi pengembangan dan kesejateraan masyarakat.

“Penguatan sentra bisnis pada desa-desa SOLID dan replikasinya dilakukan secara terpadu melalui pemberdayaan masyarakat dan gender, peningkatan produktifitas pertanian, perikanan, intervensi sarana dan prasarana dan tata kelola rantai pemasaran, kesemuanya saling mendukung untuk pengembangan sentra bisnis pada masing-masing wilayah pengembangan nya,”ungkapnya.

44407332_293381414830207_8797365947435319296_n

Menurut Derlen, untuk memperkuat sebuah sentra bisnis dalam suatu wilayah perlu dukungan kelembagaan yang kuat untuk menjalankan sebuah usaha bisnis berbasis ekonomi kerakyatan dengan prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat, sehingga kelembagaan itu mampu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Untuk memperluas jangkauan bisnis dan akses terhadap modal usaha perlu diarahkan kelembagaannya menjadi koperasi atau BUMDes yang menganut sistem ekonomi kerakyatan bukan bisnis konvensional yang tidak berpihak kepada masyarakat.

“Workshop peningkatan kapasitas pendamping dan fasilitator desa SOLID dan replikasinya tahun 2018 akan dilakukan evaluasi terhadap seluruh intervensi yang telah di input ke kelompok dan federasi dalam bentuk dana bergulir ( MF dan RF tahun 2011 s/d 2018 ) dan desa replikasi tahun 2018, “ujar Derlen.

Selain itu, kata dia, inventarisasi sarana dan prasarana dilakukan untuk mendata seluruh aset yang telah terinput untuk didorong mendukung pembentukan koperasi atau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) pada wilayah pengembangan sentra bisnis dikabupaten Seram Bagian Timur.

“Kabupaten SBT memiliki sumber daya alam potensial yang perlu dikembangkan menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat. Potensi sumber daya alam yang tersedia meliputi pertanian, perkebunan, perikanan serta sumber daya mineral yang perlu penanganan secara intensif dan terpadu agar dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat, “katanya.

Keberadaan Sumber Daya Alam (SDA) tersedia yang dimiliki tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat.

Hal ini dikarenakan pengelolaan sumber daya alam tidak sesuai prinsip Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Manufackturing Practices (GMP) sehingga produktifitas, kualitas dan kontiniutas produk potensial tidak tercapai dan akan mempengaruhi posisi tawar terhadap produk yang dihasilkan.

“Pengelolaan sumber daya alam  perlu ditangani secara menyeluruh dari hulu ke hilir dengan perbaikan kultur teknis, penanganan panen dan pasca panen, sarana prasarana pendukung produksi pertanian dan rantai nilai pemasaran, “ucap Derlen.

Dengan demikian produktifitasnya dapat ditingkatkan, kualitas produk semakin baik dan kontiniutas produk selalu tersedia sehingga posisi tawar produk semakin tinggi.

Agar pengelolaan sumber daya alam benar-benar dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat maka pengelolaannya terintegrasi dengan melibatkan stakeholder terkait misalnya petani/ masyarakat, pemerintah, pelaku usaha, perbankan, koperasi sebagai produk yang dapat dikembangkan dalam sebuah rantai bisnis.

“Pengembangan rantai bisnis atas sebuah produk potensial atau unggulan pada suatu wilayah perlu dilakukan dalam sebuah sentra bisnis agar lebih terarah dan terpadu pengelolaannya dan memberikan nilai manfaat bagi masyarakat dalam suatu kawasan sentra bisnis. Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah membangun kelembagaan usaha sentra bisnis baik dalam bentuk koperasi ataupun BUMDes untuk menjalankan bisnis atas sumberdaya potensial atau unggulan yang ada sebagai sebuah usaha bisnis yang memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat atau membangun prinsip ekonomi kerakyatan.

“Maksud dari pelaksanaan kegiatan melalui Workshop Peningkatan kapasitas pendamping  Desa SOLID Kabupaten Seram Bagian Timur Tahun 2018  adalah meningkatkan kapasitas pendamping dan fasilitator dalam memahami desain pengembangan sentra bisnis pada wilayah sasaran, “lanjut Derlen.

Hal ini agar pendamping dan fasilitator desa mampu mengidentifikasi sumber daya alam potensial pada wilayah binaannya untuk dijadikan komoditi dalam pengembangan sentra.

“Pendamping dan fasilitator desa mampu mensosialisasikan desain pengembangan sentra bisnis kepada semua anggota kelompok atau masyarakat dalam wilayah binaannya, “harap Derlen. (IN-17)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top