Hukum & Kriminal

Diduga,Prasarana Pengaman Pantai Negeri Sepa Tidak Sesuai Bestek

40532700_293391981462754_4866936405865005056_n

MASOHI,MALUKU– Informasi yang berhasil dihimpun INTIM NEWS,proyek pembangunan sarana dan prasarana pengaman pantai (talud) sepanjang 250 meter di Negeri Sepa, Kecamatan Amahai, kabupaten Maluku Tengah (Malteng) tidak sesuai bestek.

Diketahui,proyek yang dikerjakan oleh kontraktor pelaksana CV.Raya Nadawi Mandiri,beralamat di kecamatan Tehoru, dengan sumber dana APBD Dinas PU Maluku tahun anggaran 2018,mencapai Rp1,213 Miliar,diduga dikerjakan tidak sesuai dengan bestek atau konstruksi yang ditetapkan.

Kembali,proyek ini disoroti oleh Rian Idris,salah satu tokoh pemuda pemerhati pembangunan dan penegakan hukum menje laskan,ada dugaan korupsi yang sengaja dilakukan oleh pihak kontraktor pelaksana,dalam pembangunan talud pengaman pantai di Negeri Sepa itu.

40501192_257928488391630_873414623645138944_n

Pasalnya, proyek tersebut sesuai tender  dikerjakan dalam jangka waktu 120 hari kalender, berdasarkan pada tanggal kontrak yaitu 5 Juni 2018, berarti baru bisa selesai dan rampung pada bulan Oktober 2018.

Anehnya,heran dia,ketika proyek tersebut mulai dikerjakan pada pertengahan bulan Juni 2018,namun bisa selesai dan rampung hanya dalam kurun waktu satu bulan yaitu pada akhir bulan Juli 2018.

Inikan sangat aneh dan mustahil,kalau proyek tersebut bisa selesai secepat itu, heran Rian. Padahal, dalam proses pekerjaan proyek tersebut,ada banyak kendala dan hambatan baik berupa cuaca, material maupun kondisi pasang surut air laut ,yang bisa mempengaruhi proses pekerjaannya.

Berdasarkan keterangan masyarakat yang di peroleh Rian, penggalian sarana pembuatan kopor tidak mencapai satu (1) meter dan diperkirakan hanya mencapai 50 hingga 60 cm.

Selain itu tambahnya,pemasangan batu beton talud tersebut,hanya dilakukan pemasangan pada dinding bagian dalam maupun luar,sementara untuk pasangan batu dalam ,hanya bersifat batu kosong.

40534853_1111251062356845_7474813481112305664_n

Dimana,setelah dinding luar dan dalam dipasang,baru tenaga kerja memasukkan batu di bagian tengah sampai pada dua atau tiga lapisan, baru diberikan campuran semen sebagai penahan.

Padahal seharusnya,nilainya,pasangan batu itu harus dilapisi dengan campuran setiap pemasangan batu agar ,daya rekat antara batu dengan batu lain,bisa senyawa dan tahan, sangat aneh pekerjaan semacam ini.

“Apalagi,setelah proyek tersebut selesai dikerjakan dalam kurun waktu yang hanya satu bulan,pihak kontraktor tidak melaku kan penimbunan badan talud bagian dalam,sebagai kekuatan penahan ombak,sebagaimana petunjuk teknis pekerjaan. Melain kan,pihak kontraktor hanya menggali pasir maupun tanah di sekitar lokasi pekerjaan,yang ada dibelakang rumah warga guna menimbun badan talud tersebut,”jelas Rian mengutip omongan warga.

Menyikapi hal ini,Rian Idris menegaskan,ada indikasi penyelewengan anggaran alias ada indikasi korupsi dalam paket proyek tersebut ,karena diduga dikerjakan tidak sesuai bestek atau petunjuk teknis (juknis) yang ada.

Olehnya itu,sebagai tokoh pemerhati pembangunan dan hukum di Malteng, Rian Idris berharap agar, aparat penegak hukum baik Kepolisian maupun Kejaksaan di daerah ini,bisa melakukan pengusutan terhadap pekerjaan paket proyek tersebut, terutama kepada kontraktor pelaksana.

“Kalaupun dalam pemeriksaan dan pengusutan nantinya, memang terdapat indikasi penyalahgunaan keuangan negara yang berbau indikasi kasus korupsi, harus ditindak tegas,sesuai dengan hukum yang berlaku,mengingat anggaran yang diperun tukan ini,adalah bersumber dari keuangan negara yang seharusnya,masyarakat menikmati proyek tersebut dalam kurun waktu yang lama,”pintanya.(IN 18)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top