Hukum & Kriminal

Hati Baja Sang Jenderal Rusno Prihardito,Dibalik Prahara BNNP Maluku

DSC_0314

Ambon,Maluku-Raut wajah sedih,seakan tak bersamangat tersimpul dibalik senyum tegar sang Jenderal Polri, Brigjen Pol Drs Rusno Prihardito, tatkala diterpa prahara informasi adanya penjemputan dua orang anggota Polri yang membantunya di BNNP Maluku untuk melakukan penyelidikan  kasus peredaran narkotika di Kota Ambon,Provinsi Maluku.

Penjemputan dua oknum anggota Polri Brigpol R.I dan Brigpol S.A yang dilakukan oleh tim gabungan Ditresnarkoba,Paminal Provost Polda Maluku dan Bidang Pemberantasan BNNP Maluku tersebut, diduga terkesan dilakukan tindak kekerasan serta tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP)

Jiwa kesatria Bhayangkara, Jenderal Polri berpangkat bintang satu emas,yang dipercayakan untuk memimpin Badan Narkotika,memperlihatkan jiwa seorang pemimpin yang bertanggung jawab,membantu proses penyelesain masalah yang terjadi di lingkungan kerja BNNP Maluku.

Sang Jenderal lulusan Akademi ABRI (AKABRI) tahun 1985,bahkan terlihat tegar dihadapan para Jurnalis Maluku, dikantor BNNP Maluku,Jumat (10/8/2018), saat memberikan klarifikasi menepis isu tak sedap seolah-olah rumah dinas kediamannya menjadi tempat pesta sabu- sabu

“Hari ini selaku Kepala BNNP Maluku,saya memberikan klarifikasi sekaligus informasi isu yang ada seolah-olah rumah dinas Kepala BNNP Maluku menjadi tempat pesta sabu- sabu,pastinya tidak ada sarang sabu atau narkotik dirumah Kepala BNNP Maluku. Pastikan itu tidak ada, Dengan demikian peristiwa yang terjadi pada hari Rabu malam kemarin,sekali lagi saya tegaskan tidak ada pesta sabu dirumah saya selaku Kepalan BNNP Maluku,”tegas Brigjen Pol Drs Rusno Prihardito.

Berhati baja,Jenderal Polri dengan nada penuh semangat, terus menjawab pertanya yang dilontarkan Wartawan, mengenai penjemputan dua anggota Polri yang bertugas di BNNP Maluku dan terendus menggunakan narkoba.

DSC_2003

Dikatakan, dua oknum polisi yang dijemput merupakan orang-orang yang dulunya terendus sebagai pengguna narkoba. Tapi kemudian diambil dengan harapan pihaknya dapat merubah perilaku yang bersangkutan.

“Pertanyaan berikutnya siapa dia. Dia adalah orang-orang dalam rangka pengamatan perubahan perilaku, karena dia dulu pernah terendus. Kita harapkan setelah kita bisa mengintervensi dia, maka ada perubahan perilaku. Sebetulnya sudah bagus, karena ternyata saat diperiksa urine yang bersangkutan negatif. Tapi ternyata ada pengembangan kasus sebelumnya. Yang saya tidak tahu. Dan itu hasil pengembangan dari tim gabungan tadi,” ungkapnya.

Dua oknum itu, lanjut Rusno ditugaskan untuk melakukan penyelidikan terhadap beberapa informasi narkotika. Sebab, untuk memutus jaringan narkotika maka informasi dari pemakai atau mereka pecandu yang kemudian telah sadar, lebih banyak mengetahui jaringan narkotika.

“Sebetulnya informasi narkotika itu lebih banyak bisa diketahui dari mereka-mereka pecandu. Kita bisa tau dari mana, dari pemakai, termasuk dari orang-orang yang sudah sadar. Kalau misalnya kita tau dia pakai, kita tanya kamu pakai ya. Kenapa kamu pakai. Nah oleh karenanya kami menggunakan cara cara agar kita bisa tau peredaran narkotika di Maluku ini seperti apa, sambil melakukan rehabilitasi kepada mereka,” jelasnya.

Ia mengaku, saat dilakukan penjemputan dirinya sudah diberitahukan oleh Kepala Pemberantasan BNNP Maluku. Dua oknum tersebut ditangkap saat mereka sedang menjaga rumahnya. Dan saat penjemputan tidak ditemukan barang bukti.

“Saat penjemputan saya tidak di tempat. Dan sesaat sebelumnya (penjemputan) saya baru dikabari, karena saya di Jakarta. Saat itu mereka (dua oknum) sedang jaga di rumah. Sedang diam di rumah. Jadi dua orang itu memang berada di sekitar saya dalam beberapa bulan ini. Jadi dia kita pinjam dari Polda untuk pengembangan (kasus narkotika),” ungkapnya

Proses penjemputan paksa terhadap dua oknum polisi di Rumah Dinas (Rumdis) Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Maluku pada tiga hari lalu, menjadi atensi BNN RI di Jakarta. Tiga tim inspektorat diterjunkan melakukan penyelidikan terkait mekanisme penjemputan, apakah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) ataukah tidak.

Penjemputan dua oknum polisi berinisial Brigpol RI dan Brigpol SA yang menjaga Rumdis Kepala BNNP Maluku pada Rabu malam lalu, merupakan peristiwa besar. Sebab, insiden itu terjadi di Rumdis Kepala BNNP Maluku berpangkat Jenderal Polisi Bintang Satu.

“Nanti kita lihat hasil pemeriksaan, baik kami sendiri dari tim inspektorat maupun ada tim dari internal. Karena Saya baru datang (kemarin), belum bisa memberikan keterangan apakah itu di jemput?, surat perintah dari mana?, inilah oleh pimpinan BNN, kami diperintahkan untuk mencari. Namanya penyidik juga kan. Tetapi saya di taruh di inspektorat, jadi saya akan lihat ini bagaimana, apakah sesuai dengan SOP-nya apa tidak. Nanti baru kita jelaskan. Saya juga baru datang ni,” kata Komisaris Besar  Polisi Djoko Widodo, auditor inspektorat kepada wartawan di Kantor BNNP Maluku. (IN-07)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top

This site is protected by wp-copyrightpro.com