Ekonomi

Lambatnya Kinerja Korporasi Karena Faktor Eksternal Dan Domestik

346-ilustrasi_bank_indonesia-718x452

AMBON,MALUKU- Disebutkan dalam rilis oleh Bank Indonesia (BI)Kantor Perwakilan (KPw) Maluku,Jumat (06/07/2018)kepada INTIM NEWS dijelaskan, kinerja korporasi triwulan I 2018, pada sektor-sektor utama di Maluku,tumbuh melambat, dibandingkan triwulan sebelumnya. Kinerja Lapangan Usaha (LU) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, sedikit melambat dibandingkan triwulan IV 2017.

“Namun,kinerja korporasi sektor utama lainnya,terpantau tumbuh lebih baik.Kondisi ini,terlihat dari kinerja LU Perdagangan, LU Konstruksi, dan LU Administrasi Pemerintahan,yang mampu tumbuh menguat,dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu,dari resikonya,kualitas kredit korporasi terpantau membaik,meskipun pertumbuhan penggunaannya relatif lebih terbatas,”tutur Bambang Pramasudi, Kepala KPw BI Maluku.

Nyatanya,kinerja korporasi triwulan I 2018 di Maluku,dipengaruhi oleh perkembangan sektor eksternal maupun domestik. Dari sisi eksternal terangnya,faktor yang mempengaruhi adalah pemulihan perekonomian global yang diperkirakan terus berlanjut,diikuti dengan tetap tingginya harga komoditas.

Selain itu sebutnya lagi, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) membaik ,ditopang oleh peningkatan investasi dan tingkat konsumsi yang terjaga. Perekonomian Uni Eropa secara perlahan, juga membaik yang didukung oleh konsumsi dan ekspor.

“Demikian pula, dengan kondisi negara-negara di Asia. Perekonomian Jepang dan Tiongkok yang membaik,ditopang oleh perbaikan kinerja industri dan ekspor yang kuat di tengah kebijakan rebalancing secara gradual. India juga menunjukkan perbaikan ekonomi yang stabil, seiring dengan meningkatnya perkembangan teknologi dan informasi secara global,”

Namun demikian sambungnya, sejumlah resiko terhadap perekonomian global, seperti normalisasi kebijakan moneter dan faktor geopolitik tetap perlu diwaspadai. Dari sisi domestik, stimulus fiskal oleh pemerintah untuk pembangunan proyek infrastruktur,berpotensi mendorong aktivitas perekonomian, khususnya investasi.

Selain itu tutur Pramasudi,adanya persiapan penyelenggaraan pilkada serentak di Maluku,selama triwulan I 2018,juga dinilai mampu meningkatkan aktivitas ekonomi. Meskipun demikian,masih terdapat tantangan yang bersumber dari terbatasnya konsumsi masyarakat dan kinerja ekspor yang belum kuat.

“Pada triwulan I 2018, pertumbuhan kredit korporasi tumbuh melambat, dibandingkan triwulan sebelumnya.Melambatnya pertumbuhan kredit korporasi, disertai dengan menurunnya pangsa kredit korporasi,terhadap total kredit di Maluku,dari 17,51 persen dengan nominal sebesar Rp2,22 triliun di triwulan sebelumnya, menjadi 15,63 persen dengan nominal sebesar Rp1,90 triliun. Meskipun tingkat suku bunga kredit korporasi sedikit menurun dari 13,17 persen menjadi 13,13 persen,baik Kredit Modal Kerja (KMK) maupun Kredit Investasi (KI), juga mengalami penurunan,”akuinya.

Dirinya memaparkan, penurunan kredit korporasi pada triwulan I 2018, dipicu oleh menurunnya pertumbuhan KMK, yang memiliki pangsa 72,26 persen dari total kredit korporasi, dari 34,65 persen (yoy) di triwulan sebelumnya, menjadi 27,42 persen (yoy).

Secara sektoral, penurunan pertumbuhan KMK berasal dari penurunan pertumbuhan kredit pada LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dan LU Perdagangan Besar dan Eceran.

“Penurunan pertumbuhan KMK pada LU Perdagangan Besar dan Eceran,dipengaruhi oleh penurunan konsumsi masyarakat, sebagai efek cooling down setelah tingginya konsumsi pada periode Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2017 di triwulan IV 2017. Kondisi tersebut tercermin dari menurunnya pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Konsumsi Rumah Tangga pada triwulan I 2018 menjadi 3,06 persen (yoy),setelah triwulan sebelumnya tumbuh 6,28 persen (yoy). Sementara itu, pertumbuhan KMK pada LU Konstruksi tercatat, meningkat selama triwulan I 2018, sejalan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan infrastruktur proyek strategis di Maluku,”jelasnya.

Pramasudi mengaku, penurunan kredit korporasi pada triwulan I 2018 juga dipicu oleh menurunnya pertumbuhan Kredit Investasi (KI), yang memiliki pangsa 27,74 persen dari total kredit korporasi, dari 86,33 persen (yoy) di triwulan sebelumnya menjadi 27,90 persen (yoy). Secara sektoral, penurunan pertumbuhan KI ,berasal dari penurunan pertumbuhan KI pada ketiga pangsa terbesar KI, yakni LU Pertambangan dan Penggalian, LU Perdagangan Besar dan Eceran, dan LU Real Estate, Usaha Persewaan, dan Jasa Perusahaan.

“Kebutuhan investasi untuk aktivitas tambang, di beberapa wilayah di Maluku yang sebagian telah terpenuhi dari triwulan sebelumnya, menjadi faktor pemicu menurunnya KI di LU pertambangan dan penggalian. Penurunan KI pada LU perdagangan besar dan eceran dipengaruhi oleh penurunan subsektor penjualan mobil, subsektor penjualan suku cadang dan aksesoris sepeda motor, dan subsektor perdagangan cengkeh. Sementara itu, penurunan KI pada LU real estate,usaha persewaan,dan jasa perusahaan,dipicu oleh kebutuhan ekspansi usaha yang belum meningkat,seiring dengan permintaan konsumen yang cenderung stabil,”ujarnya.

Di sisi lain menurutnya , kualitas kredit di Maluku membaik sejalan dengan menurunnya Non-Performing Loan (NPL) pada triwulan I 2018. NPL kredit korporasi terpantau, mengalami penurunan menjadi 0,25 persen dari triwulan sebelumnya sebesar 0,69 persen .

Hal ini terlihat pada sebagian besar sektor lapangan usaha utama Maluku, mengalami penurunan NPL. Pada triwulan I 2018, NPL pada LU perdagangan besar dan eceran terpantau menurun dari 0,40 persen menjadi 0,28 persen. Sementara itu, NPL pada LU Konstruksi tercatat relatif stabil sebesar 0,43 persen dari triwulan sebelumnya.

Ke depan tambahnya,kinerja korporasi Maluku secara keseluruhan tahun 2018, diperkirakan masih tetap terkendali di tengah dinamika perkembangan sektor eksternal maupun domestik.

“Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, senantiasa memantau kondisi stabilitas sistem keuangan ,termasuk sektor korporasi di Maluku dan siap berkoordinasi dan bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Maluku dan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), maupun instansi terkait termasuk pelaku usaha dan perbankan di Maluku,”tutupnya. (IN-06)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top

This site is protected by wp-copyrightpro.com