Maluku Tenggara

Pemda Gandeng UGM Adakan Pengkajian Tipologi Dan Karakteristik Wilayah Pesisir Malra

Konsultasi Publik

Malra-Maluku, Pengelolaan wilayah pesisir Maluku Tenggara, (Malra) selama ini belum dikelola secara optimal, hal ini disebabkan belum adanya ketersediaan data dan informasi yang memadai tentang tipologi dan karakteristik sumberdaya pesisir. Ketersediaan data yang akurat merupakan prasyarat untuk merumuskan kekuatan dan kelemahan wilayah pesisir untuk selanjutnya dapat dirumuskan peluang dan tantangan guna dapat menyusun strategi dan kebijakan pengembangan wilayah pesisir di Maluku Tenggara.

Hal ini disampaikan penjabat Bupati Malra, Semmy Risambessy, saat membuka, konsultasi kajian tipologi dan karakteristik wilayah pesisir malra, yang bekerja sama dengan Fakultas Geografi Universitas Gadjahmada yang berlangsung di aula kantor Bupati, Langgur, (7/5/2018).

Risambessy, menjelaskan, Maluku Tenggara adalah wilayah yang terdiri dari gugusan kepulauan dan memiliki luas kurang lebih 4. 212.34. Km2, yang terdiri dari luas daratan sebesar kurang lebih 1.031.81. Km2 dan luas perairan kurang lebih 3.180.70. Km2.

“Sebagai daerah kepulauan dengan memiliki wilayah pesisir yang cukup luas dengan karakteristik yang khas ini tentunya sangat menguntungkan dalam kaitannya dengan peluang pengembangan sektor usaha apabila didukung dengan SDM yang memadai,”ungkap Risambessy.

Untuk menjawab hal tersebut lanjut Risambessy, pemerintah daerah bekerjasama dengan Fakultas Geografi Universitas Gadjahmada guna melakukan Kajian Tipologi dan Karakteristik wilayah Pesisir yang pada tahun ini disesuaikan dengan ketersediaan anggaran yang sementara dipusatkan pada wilayah pesisir kei kecil, dan nantinya dilanjutkan ke kecamatan lainnya di Malra.

Dia menambahkan, untuk melakukan suatu pengelolaan secara sistematis dan berkesinambungan, maka perlu dilakukan terlebih dahulu pengkajian tipoIogi dan karakteristik wilayah pesisir untuk memperoleh data dan informasi yang akurat terkait batasan zonasi tipologi wilayah pesisir secara spesiogeokologia.

Risambessy menambahkan, berdasarkan UU Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan wilayah Pesisir dan pulau pulau kecil, wilayah pesisir disebutkan sebagai daerah peralihan antara ekosistem darat dan Iaut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan di laut.

“Dengan demikian wilayah pesisir merupakan bagian dari sumber daya alam yang perlu dijaga kelestariannya, sehingga dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat baik generasi sekarang dan yang akan datang,”imbuhnya.

Wilayah Pesisir memiliki keragaman potensi sumber daya alam yang tinggi dan sangat penting bagi pengembangan sosial, ekonomi. budaya lingkungan dan penyangga kedaulatan bangsa. Oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,”pungkas Risambessy yang juga mantan karateker walikota tual.

Atas nama Pemerintah Daerah dan seluruh Masyarakat Malra, Risambessy, menyampaikan terima kasih kepada DR. Langgeng Wahyu Santoso, DR. Agus Joko Pitoyo, dan Faisal Arsyad, dan rekan rekan, yang telah bekerjasama melaksanakan pengkajian di Malra.

“Selamat datang di bumi larwul ngabal, surga tersembunyi terpopuler di Indonesia. Saya berharap rombongan dapat menyempatkan diri untuk menikmati pesona alam dan kekayaan wisata yang ada di Kepulauan Kei,” jelas Risambessy, (IN-09).

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top