Politik

BST : Tugas Kita Lindungi Gereja Tetap Netral Dalam Berpolitik

33041353_2041419862787083_1230302113607712768_n

AMBON,MALUKU – Usai menjadi salah satu narasumber pada acara diskusi publik, Bithzael Salvester Temmar (BST), mantan Bupati kabupaten MTB mengingatkan, gereja hanya katalisator maka tugas kita melindungi Gereja tetap netral dalam kehidupan berpolitik .

“Gereja hanya menjadi katalisator, dari berbagai kepentingan yang ada di masyarakat.Jadi ,tidak benar bahwa ada upaya untuk menggiring Gereja ke arah tertentu,melalui diskusi publik yang digagas oleh Klasis Ambon Utara hari ini. Saya kira tidak. Sebagai warga Gereja ,tugas kita ialah melindungi Gereja tetap netral dalam kehidupan politik,”ungkap BST mengingatkan, pada sesi wawancara bersama awak media, Sabtu (19/05/2018) di Biz Cafe,Ambon ,usai acara diskusi publik yang dihelat oleh Klasis Ambon Utara ini.

BST menerangkan, hari ini recovery tentang politisi kristen itu perlu.Mengapa?karena kehadiran politisi kristen, mesti bermakna untuk tugas-tugas pembebasan atau tugas- tugas emansipator.

“Tadi Saya sudah bicara tentang stand anonim.Kekristenan itu ,bukan saja orang kristen,mungkin juga nilai-nilai kristen itu diperjuangkan oleh yang bukan kristen ,dan sebetulnya itu yang diharapkan.Jadi,tidak semata-mata karena dia kristen serta tidak menggiring ke arah politik memihak atau memilih paslon tertentu ,”tandasnya,sembari mengharapkan, gereja harus netral pada moment politik tahun ini maupun di tahun-tahun mendatang.

32972149_2041421082786961_4481894443204476928_nSementara itu, Ketua Klasis Pulau Ambon Utara Pdt. Ampy Beresaby menegaskan, diskusi publik ini bukan karena pilkada. Bisa dilihat temanya pemilu dan pembangunan kesejahteraan rakyat.Oleh karena itu, kita harus dorong pemilih memilih sesuai hati nurani pada tanggal 27 Juni atau nanti pilpres 2019 mendatang .

Dirinya mengaku,ini masalah kita memang.Politik identitas dan transaksional,bukan saja tantangan partai politik,tetapi Gereja juga pertanggungjawabkan itu.

Ketua Klasis Ambon Utara ini menyebutkan,memang ini proses yang akan dikembangkan ke semua jemaat. Sehingga ,jemaat juga mengerti hak-haknya, yang paling penting bekerja membangun masa depan gereja kami.

“Warga Gereja yang baik itu ,gereja secara institusional .Kemudian, warga Gereja yang ada di wilayah politik ,Gereja juga bertanggungjawab ,”ujarnya.

Dijelaskan lebih lanjut olehnya, kita memang, selama ini butuh forum-forum diskusi seperti ini, agar bisa kontribusi pastoralia para pejabat .

“Itu serius, daripada para Pendeta masuk dunia politik,lebih baik diskusi seperti ini, kita lebih terhormat dan lebih baik.Ini kita bicara tentang pemilu,kita tidak punya konsentrasi khusus siapa yang nanti jadi,tadi arah diskusi kita jelas,”akuinya.

Menurutnya, kebetulan saja para nara sumber yang hadir, adalah warga gereja yang punya pengalaman di wilayah legislatif dan eksekutif. Dikatakan,ke depan akan diundang dan melibatkan lebih banyak orang

“Ini akan menjadi agenda tetap Klasis.kita tidak bisa terhindar dari posisi politik, yang menentukan banyak hal untuk kesejahteraan rakyat.Itu harus ada ruang ,agar gereja bisa terlibat secara positif.Kita mestinya menghindari cara-cara, yang tentunya mengarah kepada kekerasan,demonstrasi mungkin salah satu jalan akhir,”ucapnya.

Sekedar tahu, narasumber yang dihadirkan yakni, Ketua KPU Kota Ambon Nus Kaimana, Sekretaris Umum Sinode GPM Elifas Maspaitella, Walikota Ambon Richard Louhenapessy serta Bito Temmar Mantan Bupati MTB . (IN-06)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top