Kota Tual

Diduga Miliki Ijazah Bodong Plt, Walikota Tual Diminta Mundur

Demonstrasi

Tual, Maluku- Warga Masyarakat Kota Tual yang tergabung dalam Gerakan Elemen Masyarakat Penegak Konstitusi, (GEMPK) kota Tual berunjuk rasa di depan kantor DPRD, dan Kantor Walikota Tual. Aksi memprotes kebijakan Plt Walikota Tual, Abdul Hamid Rahayaan, yang mana sampai saat ini masih tetap ingin melakukan mutasi atau Rolling pegawai pada lingkup pemerintah kota Tual, sebagai bentuk intimidasi kepada ASN Tual.

Para demonstran itu memprotes kebijakan Abdul Hamid Rahayaan,  yang melantik pejabat eselon ll dan lll di lingkup pemerintah kota Tual. Plt Walikota Tual itu, bahkan  melalukan pergantian seluruh Pejabat kepala desa dan dusun hingga RT, di wilayah Kota Tual.

Selain melakukan pelanggaran, Plt Walikota, Abdul Hamid Rahayaan, juga terindikasi kuat memiliki ijazah palsu, teriak Ketua Lembaga Swadaya masyarakat, (LSM) Lingkar Pulau Kei Nasional, (LPKN) George Elkel pada unjuk rasa, siang tadi.

“Ini dugaan kejahatan lintas provinsi yakni Provinsi Maluku dan Maluku Utara, dimana  dua ijazah milik yang bersangkutan itu kita duga palsu,” duga orator.

“Ijazah SMP Hamid Rahayaan tidak ada. Dalam memenuhi administrasinya Hamid menggunakan surat keterangan pengganti ijazah. Tapi surat keterangan tersebut ditanda tangani oleh kepala sekolah yang sudah tidak aktif dan berlaku surut di tahun 2018, sementara proses surat tersebut di tahun 2017.” ungkap George dalam orasinya.

Dalam Surat Edaran (SE) Mendagri menegaskan, bagi Kabupaten/Kota yang melaksanakan Pilkada serentak, maka Pejabat yang ditetapkan sebagai Pj/Plt/Pjs tidak diperkenankan melakukan mutasi jabatan kecuali mendapat persetujuan tertulis dari Menteri Dalam Negeri.

Para pengunjuk rasa juga mengancam akan menutup akses penghubung kedua daerah, yakni Kota Tual dan Kab.Maluku Tenggara hingga tuntutan mereka tidak dikabulkan.

“Dan sebagai bentuk protes, kami akan melakukan aksi pemboikotan dan penutupan sarana vital, Kantor Walikota Tual, Jembatan Usdek dan Bandara Ibra Karel Sadsuitubun Langgur, hingga tuntutan Kami terpenuhi.” Ancam  Dedy Rahanyamtel.

Aksi tersebut berlangsung panas, aksi saling dorong antara demonstran dan Satpol PP, disebabkan, Abdul Hamid Rahayaan, menolak bertemu massa unjuk rasa yang sudah menanti sejak pagi. Pengunjuk rasa akhirnya membubarkan diri beberapa waktu kemudian. (IN-09)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top