Hukum & Kriminal

Kasus Dugaan Pemerasan “Bos Pemuda” Masuk Meja Hijau

Sidang kasus pemerasan..
Saksi Ansye Souhoka (19 tahun) memberikan kesaksiannya dihadapan Jaksa Penuntut Umum Kejati Maluku, Senin (4/12/2017)

Ambon, Maluku- Setelah melalui penyerahan tahap- 2 (Penyerahan berkas dan tersangka) yang dilakukan oleh Penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Maluku kepada Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Tinggi Maluku, berkas dan tersangka kasus pemerasan yang dilakukan oleh tersangka Victor Haurisa, (46 tahun) akhirnya resmi disidangkan oleh JPU Kejati Maluku di Pengadilan Negeri Ambon, Senin (4/12/2017) dengan agenda pemeriksaan saksi.

Sidang perdana tindak pidana pemerasan yang digelar di Pengadilan Negeri Ambon ini, dipimpin langsung oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Ambon, Leo Sunarko, SH (Hakim Ketua) dan di damping oleh H. Syamsudin La Hasan dan Christiana Tetelepta, (Hakim Anggota), menghadirkan saksi Ansye Souhoka (19 tahun) untuk didengarkan keterangan kesaksiannya dihadapan Jaksa Penuntut Umum Kejati Maluku yang dihadir oleh Silvia Hattu dan Ester Wattimura dengan terdakwa Victor Haurisa yang didamping oleh Penasihat Hukum, Muler Ruhulesing, SH Cs dengan barang bukti berupa 2 buah surat pemberiaan kuasa dan surat pencabutan kuasa dan sejumlah uang sebesar Rp. 500.000.

Dalam penuturannya kepada Majelis Hakim PN Ambon, Saksi Ansye Souhoka menjelaskan proses pemerasan yang dilakukan oleh terdakwa Victor Haurisa kepada Budi Junaedi, pemilik toko pemuda berawal saat saksi yang bekerja di toko pemuda sebagai seorang karyawati yang mulai bekerja dari tanggal 7 September sampai dengan tanggal 3 Desember 2016 di keluarkan oleh sang pemilik toko pemuda tanpa dibayar pesangon ataupun digaji oleh bos toko pemuda.

“Sejak saya di keluarkan oleh koko Budi Junaedi lantaran saya sering bermain HP dan tidak bekerja di toko Pemuda, sehingga sejak saya dikeluarkan, gaji saya selama bekerja kurang lebih 3 bulan hanya dibayar 1 bulan dengan uang senilai Rp 1.450 oleh pemilik toko pemuda. Sehingga mendengar cerita dari salah seorang saudara saya, terdakwa yang saat itu dalam keadaan mabuk mendatangi rumah kost saya yang berlokasi di daerah skip dan menawarkan untuk membantu saya mengurusi sisa gaji saya yang belum dibayarkan oleh Budi Junaedi,” ucap Gadis tamatan Sekolah Dasar itu kepada Majelis Hakim PN Ambon.

Selain itu saksi yang ditanyakan oleh Leo Sunarko selaku Majelis Hakim terkait barang bukti berupa surat kuasa yang diberikan oleh terdakwa Victor Haurisa dan kemudian ditandatangani oleh dirinya, juga mengakui dirinya diberikan surat kuasa oleh terdakwa yang tidak dibaca oleh saksi apa isi surat kuasa yang diberikan oleh terdakwa.

“Saya ceritra kepada terdakwa kalau saya saat dikeluarkan dari toko pemuda, gaji saya hanya dibayar 1 bulan oleh pemilik tokoh pemuda, sehingga keesokan harinya terdakwa Victor Haurisa mendatangi rumah kost saya di Skip dan memberikan surat kuasa untuk ditandatangani oleh saya. Saat saya tandatangan surat kuasa yang diberikan oleh terdakwa, saya juga tidak membaca apa isi dari surat kuasa tersebut. Usai tandatangan surat kuasa, terdakwa bilang kepada saya kalau dirinya akan membantu saya mengurusi uang pesangon saya yang belum dibayarkan oleh bos toko pemuda kepada saya,”ucapa saksi Ansye Souhoka kepada Majelis Hakim PN Ambon.

Saksi juga mengatakan, setelah dirinya menandatangani surat kuasa yang diberikan oleh terdakwa, terdakwa yang menjanjikan akan membatu saksi mengusrusi uang pesangon miliknya, pergi tanpa ada kabar, dan dirinya baru diberitahu oleh Budi Junaedi pemilik toko pemuda yang memberitahunya melalui telephone seluler katanya ada seseorang yang membawa surat kuasa mengatas namakan saksi untuk meminta sisa uang pesangon kerja yang belum dibayarkan oleh pemilik toko pemuda.

“ Saya dihubungi oleh koko Budi Junaedi untuk datang ke toko pemuda, katanya ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh koko Budi. Sesampai saya di toko pemuda, koko budi kemudian menyempaikan untuk membuat surat pencabutan surat kuasa, namun karena saya terbatas dengan pengetahuan untuk membuat surat pencabutan surat kuasa sehingga koko budilah yang membuat pencabutan surat kuasa dan menyuruh saya tanda tangani di atas materai 6 ribu untuk diserahkan kepada om Victor Haurisa. Saya kemudian melipat surat pencabutan kuasa yang dibuat oleh koko budi dan memasukannya di sebuah amplop dan menyerahkan kepada om Victor Haurisa. Keesokan harinya tanggal 26 Juli 2017, saya baru tau kalau Om Victor Haurisa di tangkap oleh Unit Resmob Polda Maluku,”tutur Saksi.

Usai mendengar keterangan saksi, terdakwa Victor Haurisa yang diberikan kesempatan oleh Majelis membantah keterangan saksi terkait dengan pemberian surat kuasa yang diberikan oleh terdakwa yang sebelum ditandatangani oleh saksi, saksi terlebih dahulu membaca surat kuasa tersebut, namun saksi malah mengelak tidak membaca isi surat kuasa dan langsung menandatangani surat kuasanya.

Usai mendengarkan keterangan dari terdakwa, Leo Sunarko selaku Majelis Hakim PN Ambon menunda sidang kasus tindak pidana pemerasan yang dilakukan oleh terdakwa kepada Budi Junaedi, pemilik toko pemuda, dan dilanjutkan pada, Kamis (7/12/2017) dengan agenda keterangan mendengar keterangan 3 orang saksi yang akan dihadirkan oleh JPU Kejati Maluku. (IN-07).

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top