Maluku Barat Daya

Soal Pencemaran Merkuri di Romang,  LKLM Tuding Kontras Bungkam Hasil Periksa 8 Warga

Hasil Periksa Warga Hila MBD yang terinfeksi zat Merkuri
Hasil Periksa warga Romang MBD yang terinfeksi zat merkuri

Ambon, Maluku – Kisruh persoalan lokasi tambang emas yang ada di Pulau Romang, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) yang dicemari oleh limbah merkuri akibat pengelolaan eksplorasi tambang emas yang dilakukan oleh PT Gobel Borneo Utama (GBU) mendapat sorotan langsung dari pihak Kontras sebagai salah satu komisi yang bekerja menangani persoalan Hak Asasi Manusia di Indonesia.

Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau disingkat Kontras ini sebagai sebuah komisi yang bekerja memantau persoalan Hak Asasi Manusia, KIP-HAM banyak mendapat pengaduan dan masukan dari masyarakat, baik masyarakat korban maupun masyarakat yang berani menyampaikan aspirasinya tentang problem HAM yang terjadi di daerah.

Pasalnya pengelolaan tambang emas pulau Romang yang dikelola oleh PT GBU dengan menggunakan bahan merkuri tersebut tidak hanya merusak lingkungan di sekitar namun juga mengakibatkan beberapa warga Pulau Romang terkena penyakit mematikan akibat mengkonsumsi air yang telah tercemar oleh limbah tersebut.

Warga Pulau Romang yang terkena penyakit akibat keracunan limbah merkuri tersebut akhirnya dibawa oleh pihak Kontras ke salah satu Lab Kedokteran (Prodia) yang ada di Ambon untuk mengmbil sampel darah untuk di uji Laboraturium terkait dengan aliran darah dari warga Romang yang terkena penyakit akibat keracunan merkuri.

Namun selaku perwakilan dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas Ham), pihak Kontras seakan tertutup dan bungkam soal hasil pemeriksaan 8 Warga Romang yang terserang Penyakit akibat keracuanan merkuri. Hal ini disampaikan Ketua Kalesang Maluku, Ambrosius Kolatfeka kepada Intim News melalui telphone seluler, (11/11/2017).

“ Kontras secara diam- diam datang di Ambon untuk melakukan mobilisasi orang orang Pulau Romang khusus Warga Desa Hila Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) untuk segera ke Ambon guna melakukan pemeriksaan darah terkait zat merkuri yang ada dalam tubuh ke 8 warga Desa Hila Pulau Rang tersebut. Di sana proses mobilisasi pun melalui orang Romang yang ada di Ambon dan di periksa pada salah satu klinik di Ambon Klinik Prodia Ambon guna melakukan pemeriksaan darah apakah terkandung zat kimia merkuri atau tidak,” tutur Sang Akfivis pemerhati lingkungan itu.

Dikatakannya, tak hanya menyembunyikan hasil uji Lab Prodia dari 8 warga Desa Hila Pulau Romang terkait dengan kandungan zat merkuri yang ada dalam darah ke 8 Warga tersebut, Kontras yang juga dibantu oleh Izak Knyerelai selaku Ketua Mahasiswa Romang Ambon yang telah diberikan hasil uji Lab Prodia juga enggan memberikan hasil test warga Romang tersebut dengan alasan bahwa data dari Lab Prodia tersebut bersifat privat dan hanya perlu diketahui pihak Kontras.

“ Ketika kami dari Lembaga Kalesang Lingkungan Maluku mendatangi Pimpinan Prodia guna mendapat data itu ada salah satu dari rekanan kerja kontras di Ambon yakni Izhak Knyarilai menyampaikan data ini bersifat privat dan tidak boleh dibuka, sehingga sebagai lembaga yang mendapat kuasa resmi dari masyarakat Romang patut mempertanyakan kenapa hasil laboratorium itu tidak mau dibuka ke publik, alasan apa? Bagi kami sebagai lembaga yang mengadvokasi masalah ini tetap mendesak untuk hasil Laboratorium harus dibuka ke publik guna mendapat perhatian semua pihak karena ini masalah kandungan Zat kimia dalam tubuh manusia, kami patut mempertanyakan hal ini. Alasan medasar apa kontras meminta data ini tidak bole digubris?, tutur Kolatfeka.

Lebih lanjut dikatakan, di lain sisi, hasil penelitian tim gabungan dari semua instansi berkesimpulan bahwa tidak ada merkuri di Romang, yang dipresentasikan dalam rapat bersama dengan Gubernur Maluku Ir Saidd Assagaff pada tanggal (17/72017), dan hasil presentase tersebut diterima oleh semua pihak yang membenarkan tidak adanya kandungan zat merkuri dari kegiatan eksplorasi tambang emas di Pulau Romang Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD).
Namun dalam kenyataanya selaku perwakilan dari Komnas Ham RI, pihak Kontras kembali memperoleh data terkait dengan masyarakat Pulau Romang yang telah terkontaminasi zat merkuri.

“ Kami Lembaga Kalesang Lingkungan Maluku juga minta Kontras untuk mempresentase metodelogi yang di pakai dalam pengambilan sampel sehingga kondisi masyarakat segera ditanggulangi kondisinya. Sebagai lembaga yang mendampingi masyarakat Romang selama ini menilai kontras tidak bertanggung jawab atas data yang dikantonginya. Karena tidak bisa terang benderang membuka hasil laboratorium ini. Kami menduga kuat dalam rangka kepentingan data laboratorium itu yang menjadi keinginan Kontras sedangkan proses pendampingan terhadap manusia Romang yang datang di Ambon tidak diurus,” Tandasnya. (IN-07)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top