Hukum & Kriminal

Berlagak Layaknya Preman, Seorang Pengacara Di Ambon DiPolisikan

sengketa-tnah

Ambon, Maluku – Berlagak layaknya seorang preman, seorang pengacara hukum di Kota Ambon berinisial M.L bersama dengan rekannya yang berinisial E.S memimpin warga Desa Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon dengan bersenjata tajam mendatangi lokasi pengusuran tanah milik Balai Pelaksanan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah IX Maluku-Maluku Utara sambil mengancam para pegawai BPJN yang berada di lokasi penggusuran.

Informasi yang diterima Intim News dari sumber Polda Maluku yang enggan namanya disebut itu, (9/11/2017) menjelaskan tindakan premanisme yang dilakukan oleh M.L dan E.S dengan memimpin warga Desa Tawiri bersenjata tajam mendatangi para pegawai Balai Pelaksanaan Jalan Nasional mengancam para pegawai BPJN Wilayah IX Maluku-Malut untuk segera meninggalkan lokasi penggusuran tanah tersebut, terjadi pada Rabu (8/11/2017) sekira pukul 15.30 WIT.

” Sekitar jam setengah 4 sore, kelompok E.S dan Pengacara Hukum M. L, SH memimpin warga Desa Tawiri, datang ke lokasi penggusuran tanah milik Pemerintah Republik Indonesia cq Balai Jalan dan Sungai Provinsi Maluku membawa parang sambil teriak-teriak mengancam karyawan BPJN wilayah IX Maluku-Malut yang sementara bekerja dan mau mengeksekusi lahan tanah tersebut tanpa adanya perintah langsung dari pihak Pengadilan Negeri Ambon selaku eksekutor,” tutur Sumber Polda Maluku.

Sumber juga mengatakan, melihat warga Desa Tawiri yang membawa senjata tajam dan ingin mengeksekusi tanah milik BPJN wilayah IX Maluk-Malut tersebut, para pegawai BPJN yang berada di lokasi akhirnya memberitahu pemilik tanah yang sebenarnyaa yaitu ibu Na Atamimi selaku pemilik tanah yang sah yang kemudian menjual tanahnya kepada BPJN wilayah IX Maluku-Malut.

“ Saat tiba di lokasi kejadian Ibu Na Atamimi yang saat itu didampingi oleh Raja Tawiri langsung mengeluarkan surat-surat hak kepemilikan tanah yang dimilik oleh keluarga Atamimi, sehingga aksi premanisme masyarakat desa Tawiri yang dipimpin oleb oleh Pengacara M L, SH, dan kliennya E. S yang merasa bersalah akhirnya meninggalkan lokasi tersebut dan menuju lokasi lain,” ucap sumber.

Dikatakannya, dari tindakan layaknya gerombolan preman yang ingin mengeksekusi lahan milik Negara tanpa ada perintah langsung dari Pengadilan Negeri Ambon membuat pengancaman dan perasaan tudak menyenangkan terhadap Ibu Na Atamimi maupun BPJN Wilayah IX Maluku-Malut yang akhirnya harus berurusuan dengan pihak Kepolisian Ditreskrimum Polda Maluku.

“ Masalah pengancaman atau membuat perasaan tidak menyenangkan, yang dilakujan oleh Pengacara Hukum M.L,SH dan cliennya E.S tersebut melanggar pasal 335 KUH Pidana dengan ancaman hukuman 1 tahun penjara,” Tandas sumber Anggota Polda Maluku. (IN-07)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top