opini

Abubakar Sehwaky, 28 Tahun Mengabdi Sebagai Guru Non PNS

Arif..

Oleh ARIF ASLIN

“Menjalankan tugas sebagai guru adalah profesi yang mulia untuk dilakukan. Apalagi dalam niatnya dia selalu ingin membantu mencerdaskan anak bangsa terutama anak-anak didesa sendiri.”

Pagi itu saya sedang meliput acara lomba baca puisi yang digelar oleh salah satu instansi di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Bersama seorang rekan wartawan media lokal, kami memilih duduk disudut tenda tempat acara tersebut diadakan. Kebetulan kami melihat disitu ada sejumlah siswa SD dan SMP sedang berkumpul menyimak pembacaan puisi dari salah satu peserta yang menandai acara tersebut mulai dibuka. Sang MC yang membawakan acara mulai memanggil pejabat yang akan membuka acara lomba baca puisi itu.

GuruSalah satu pejabat yang dipanggil untuk membacakan sambutan adalah kepala dinas Perpustakan dan Kearsipan SBT yang diwakili oleh Hadi Rumbalifar. Dalam sambutan yang dibacakan mewakili kepala dinas itu, dia berterima kasih kepada sejumlah guru. Salah satunya, dia menyebut nama Pak Abu. Yang katanya guru SMP tempat dia menimbah ilmu. Kebetulan Hari itu bertepatan dengan Hari Guru Nasional dan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Ke-72. Nama yang disebut itu membuat saya penasaran karena kata dia, guru itu telah bertugas puluhan tahun bahkan menurut Rumbalifar, dia merupakan murid dari guru yang dia sebut itu. Rasa penasaran saya semakin bertambah ketika dia menyebut Pak Abu mengabdi puluhan tahun tanpa dibayar.

Sayapun mencari informasi tentang keberadaan guru yang disebut Rumbalifar dalam sambutannya itu. Tak jauh dari tempat yang saya duduk ada sosok seorang pria paru baya memakai batik kopri yang sedang duduk menyaksikan acara itu. Saya lalu menghampiri pria tua itu untuk bertanya tentang keberadaan Pak Abu yang disebut-sebut Hadi Rumbalifar dalam sambutannya itu.

Nasib berkata baik, tak disangka-sangka pria yang saya tanyakan itu adalah Pak Abu sendiri. Sosok yang dikagumi Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan kabupaten SBT, Hadi Rumbalifar itu mulai membuka percakapan kami. Dengan sedikit lelucon dia menanyakan kehadiran saya ditempat itu. Sayapun menjelaskan dan mulai menanyakan tentang apa yang disampaikan Hadi dalam sambutannya tadi. Pria dengan nama lengkap Abubakar Sehwaky inipun mulai mengisahkan perjalanannya mengabdi sebagai seorang guru.

Suami dari Damawia Sehwaky ini mengaku, telah menjalankan profesi itu semenjak 28 tahun silam. Bahkan, Pengabdian warga desa Waru Kecamatan Teluk Waru kabupaten Seram Bagian Timur ini sudah dimulai sejak kabupaten itu belum dimekarkan. Namun, pak Abu, panggilan akrab Abubakar, tidak bernasib bagus seperti teman-taman gurunya yang lain. Ayah 2 orang anak ini hanya menyandang status guru bantu atau guru non pegawai negeri sipil (PNS). Oleh karena itu, selama bertugas dari tahun 1989 silam hingga kini Pak Abu kadang dibayar, kadang juga tidak dibayar, tergantung kebijakan kepala sekolah ditempat dia mengabdi.

“Pernah dulu di SMP itu saya dibayar 5 ribu, kadangkalah 10 ribu, tapi saya tetap bersyukur karna bisa mengabdi dikampung sendiri, “ujar Pak Abu mengisahkan pendapatan yang dia terima.

Bahkan sejak memilih mengabdi sebagai seorang guru di Sekolah Menengah Pertama (SMP) PGRI Belis, pria paru baya ini rela tidak dibayar sekalipun yang penting bisa mengabdi. Namun semangatnya mendedikasikan diri dikampunya itu, membuat dia tidak mengeluh tentang bayaran yang dia terima. Bahkan kondisi ekonominya terbilang cukup memprihatinkan. Ini terlihat jelas dari tempat yang dia tinggal. Bersama anak dan istrinya pria yang kini berusia 51 tahun hanya menghuni rumah berukuran 5×6 meter persegi dan berdinding papan.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Pak Abu harus putar otak. Berbagai cara dilakukan hanya semata-mata untuk makan sehari-hari. Sebab, dengan penghasilan dari mengabdi sebagai guru sangat kecil, tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari namun semangat untuk mencerdaskan generasi muda tidak memuspuskan niatnya. Untuk itu, kadang dia harus nyambi jadi nelayan. Dari hasil melaut yang dilakoni itu dirasa cukup mencover biaya hidup dia dan keluarga kecualinya. Selain nyambi sebagai nelayan, pada tahun 2004, Pak Abu memilih mengabdi didua sekolah berbeda. Di SMP PGRI Belis dan satunya di Sekolah Dasar (SD) Negeri Waru.

Sejak Pemerintah pusat memutuskan untuk memberikan bantuan operasional sekolah (BOS) bagi seluruh sekolah di Indonesia termasuk sekolah dikecamatan Teluk Waru dia juga kecipratan dana tersebut. Guru mata pelajaran PKN dan Matematika ini mulai dibayar Rp.200 ribu sampai Rp. 300 ribu perbulan. Itupun tergantung kebijakan kebijakan pimpinan kepala sekolah tempat dia menjalankan tugas.

Sebelum mengabdi menjadi guru dikampungnya, Pak Abu pernah merantau dikota Masohi kabupaten Maluku Tengah. Ditempat merantau itu, Abu muda sempat mengeluti sejumlah pekerjaan. Namun, dia merasa pekerjaan yang dia geluti tidak sesuai dengan hati nuraninya. Mendengar kabar tentang telah dibukanya Sekolah Menengah Pertama (SMP) dikampungnya ia langsung memutuskan untuk pulang kampung dan mengabdi sebagai seorang guru.

Kegigihan pria yang telah beruban ini tidak pantang menyerah. Meski puluhan tidak diangkat sebagai guru kontrak, tidak pernah menyurutkan niatnya mengabdi. Bahkan beberapa kali gagal dalam tes calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) namun dia tetap memilih menjalankan tugasnya. Pak Abu mengaku, usulan untuk diangkat menjadi guru kontrak sudah dilakukan berkali-kali. Tak hanya dipemerintahan SBT, dimasa Pemerintahan Maluku Tengah juga dia pernah diusulkan untuk diangkat namun belum diakomodir. Bahkan namanya telah diusulkan oleh beberapa kepala UPTD Pendidikan Teluk Waru yang telah berganti.

Menurut dia, menjalankan tugas sebagai guru adalah profesi yang mulia untuk dilakukan. Apalagi dalam niatnya dia selalu ingin membantu mencerdaskan anak bangsa terutama anak-anak didesa sendiri. Untuk itu, dia lebih memilih menjadi guru meskipun dibayar atau tidak.

Diakhiri cerita singkat itu, saya bertanya tentang harapan Pak Abu kepada Pemerintah di Hari Guru Nasional ini. Dengan suara yang masih terdengar lantang Pak Abu berharap, diusia yang telah tua itu dia bisa diangkat menjadi pegawai negeri sipil meski hanya setahun saja. Dia juga meminta, bila tidak diangkat menjadi PNS, dia bisa diangkat sebagai guru kontrak oleh Pemerintah daerah setempat.

“Kalau Pemerintah kasih kesempatan, Beta (saya) cuma berharap bisa menikmati usia tua ini dengan gaji pensiun, ya kalau seng (tidak) bisa jadi guru kontrak saja, “ungkapnya mengakhiri cerita singkat kami. (**)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top