Maluku Tenggara

Pemda Malra Gandeng LIPI Gelar Pelatihan Budi Daya Lola

Sekretaris Daerah Malra

Malra,Maluku-  Karakteristik daerah kepulauan Kei dengan jumlah pulau mencapai 68 buah, manjadikan Maluku Tenggara (Malra) dan Kepulauan Kei sebagai suatu daerah dengan potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar. Potensi yang besar tersebut perlu dikelola dengan baik, sehingga dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Di samping itu, hal ini juga penting bagi keberlanjutan dan kelestarian lingkungan serta sumberdaya potensi tersebut. Komoditi Lola sejak zaman dahulu kala, telah diupayakan oleh warga masyarakat Kei, baik di Pulau Kei Besar maupun di Kei Kecil. Lola sudah menjadi salah satu sumber penghasilan warga sejak era tahun 70-an sampai dengan 90-an.

Hal ini disampaikan Bupati Malra pada pembukaan pelatihan budidaya Lola atau bahasa latinnya (Trochus niloticus) kepada nelayan pembudidaya dilingkup Kabupaten Malra. Dalam sambutannya, yang dibacakan Wakil Bupati, Drs Yunus Serang di aula LIPI Tual, Malra. Selasa (31/10/17).

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan manfaat pengetahuan guna meningkatnya keterampilan peserta pelatihan dalam mengelola dan membudidayakan komoditas Lola di lingkup Malra.

Rentanubun mengatakan, seiring dengan semakin tingginya permintaan pasar,  eksploitasi pada komoditi ini dilakukan secara besar-besaran, sehingga mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan serta menurunnya angka komoditi Lola itu sendiri.

” Kerusakan lingkungan dan turunnya jumlah spesies Lola yang terjadi, telah mengakibatkan tetjadinya pergeseran, dimana Lola yang dahulu sangat banyak diusahakan oleh warga di kepulauan pesisir laut kini sangat jarang untuk dijumpai. Menyadari akan peluang besar yang dapat diperoleh dari pemanfaatan potensi ini, maka sejak tahun 2016, pemerintah daerah bekerjasama dengan LIPI telah mengupayakan pengadaan anakan Lola yang akan disebar ke masyarakat, untuk dibudidayakan dalam rangka konservasi dan pelestarian. Keberadaan biota ini di pesisir, akan berdarnpak pada semakin pulihnya ekosistem lingkungan laut, yang telah menurun kualitasnya, “ ucapnya.

Rentanubun menambahkan, para kepala desa (Kades) serta peserta pelatihan yang datang dari desa (ohoi) masing-masing, adalah merupakan ohoi pilihan yang sesuai dengan karakteristik wilayahnya sangat cocok untuk pembudidayaan Lola.

“Kompetensi dan keahlian teman-teman dari LIPI sudah sangat memadai, sehingga dalam menentukan lokasi sebaran Lola ini pasti telah dipertimbangkan secara matang, “ jelasnya.

Olehnya itu, diharapkannya kepala Ohoi beserta perangkat dan seluruh peserta pelatihan, agar benar-benar secara serius berusaha dan sedapat mungkin memahami dan berupaya mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan itu.

Penyelenggaraan Pelatihan Budidaya Lola sangat sejalan dengan komitmen pemerintah daerah untuk memberikan pemahaman dan keterampilan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup, secara khusus, lingkungan pesisir laut yang merupakan sumber utama kekayaan alam di daerah itu. (CR-01).

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top