Seram Bagian Barat

La Gader : Saya Khilaf Pukul Siswa Ditengah-Tengah Apel Murid

stop-kekerasan-terhadap-anak-_150708115424-989

SBB, Maluku – Kepala Sekolah SMA Al Fikri, La Gader akhirnya angkat bicara terkait kekerasan yang dilakukan oleh dirinya kepada salah seorang muridnya.

“Yang saya lakukan bukan memukul, tetapi menempeleng, jadi beda menempeleng dengan memukul, kalau memukul identik dengan tangan menggenggam dengan kekerasan, tetapi ini tidak seperti yang digambarkan. Mungkin saya khilaf saat menempeleng Romi, Siswa SMA Al Fikri kelas I, karena saya sadar menempeleng Romi pada saat apel pagi di depan teman-temannya dan para guru lainnya juga melihat, bahkan saat saya seret Romi supaya jangan langsung masuk ke kelas,” jelas Kepala Sekolah SMA Al Fikri, Dusun Telaga, Desa Piru, Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, Jumat, (13/10/2017) kepada media ini .

baca juga : Kepsek SMA Al Fikri Aniaya Anak Didiknya Hingga Berdarah-darah

Menurutnya, kalau pukulan itu dengan palungku (tangan mengepal=red) seraya memperagakan genggaman tangannya, tetapi ini hanya dengan tangan biasa. Anak ini sudah sekian lama tidak pernah pergi sekolah kurang lebih sekitar empat bulan, bahkan kita ingin mereka untuk dikeluarkan dari sekolah, tetapi karena merasa kasihan masih usia sekolah, sehingga diberi kesempatan. Selama ini, yang diketahui anak ini tidak sekolah dan lebih banyak bergaul dengan orang-orang dewasa, mulai sering minum minuman keras (Miras), merokok dan suka pukul orang-orang di sekitarnya, bahkan termasuk dua orang yang kini ditahan di Polres SBB terkait baku pukul beberapa waktu lalu adalah kelompok Romi juga.

“Saat beta tempeleng karena kita anggap sebagai keluarga, karena rumahnya pun masih bersebelahan dengan beta rumah, bahkan saya gali sumur bor pun, air minum itu beta distribusikan melalui selang untuk keluarga mereka. Memang pernah Romi bukanlah satu-satunya yang pernah saya tempeleng, kita menempeleng siswa selain Romi tetapi semuanya baik-baik saja, karena niat saya adalah untuk mendidik mereka,” tegasnya.

Menurutnya, batasan cara mendidik itu seperti apa, dan dirinya berharap bisa merubah sikap. Saya lihat anak ini (Romi=red) juga sering keluar malam, bahkan terkadang begadang sampai larut malam sekira pukul 02.00-03.00 WIT dini hari mereka baru pulang.

“Saya tidak mungkin melakukan pemukulan seperti seorang musuh, kalau mereka mengadukan hal ini ke Polres SBB, ya itu sah-sah saja, tetapi banyak saksi yang melihat ketika saya melakukan pemukulan tersebut, karena dihadapan para siswa saat sedang berlangsung apel pagi, secara keseluruhan siswa semua melihat bahkan para guru-guru pun melihat pasca pemukulan. Dari insiden tersebut, saya menyuruh salah seorang guru, Edi Manaid untuk menengok kondisi Romi tersebut di rumahnya, tetapi dari hasil laporan yang saya terima darah yang keluar dari hidung itu adalah mimisan bukan karena efek pukulan,” tegasnya membela diri.

Menurutnya, kemungkinan karena anak itu jarang tidur, kurang istirahat, maka ketika saya pukul atau saya tempeleng dari hidungnya keluar darah. Sementara terkait dengan isu atau informasi bahwa hidung retak sesuai hasil visum itu hanya rumor alias mengada-ada dan sengaja dibesar-besarkan masalah atau identik dengan rekayasa. Karena saya tempeleng bukan saya pukul, karena mungkin informasi tersebut dari mulut ke mulut, tetapi niat saya adalah untuk mendidik anak-anak tersebut. Pemukulan ini bukan karena dendam, karena ini tetangga beta sendiri dan saya sayang sehingga saya anggap sebagai anak saya sendiri.

“Terkait dengan statemen saya, kau mau lapor sampai mana saja, saya iko, itu mungkin karena saya khilaf dan emosi. Tetapi, saya serahkan kepada bapak ibu orangtua yang bersangkutan kalau mau melapor, ya tidak masalah, nanti kita akan ikuti prosesnya sampai sejauhmana,” pungkasnya.

Sementara, orang tua Romi, pasangan suami istri, Risman dan Arni telah melaporkan hal tersebut ke Polres SBB, agar pelaku, Kepsek, La Gader, segera diproses karena melakukan penganiayaan. Kalau mau mendidik bukan dipukul kepalanya, tetapi bisa dipukul bagian badan.

“Kami mendesak Polres SBB, segera mengusut kasus tersebut, karena kami tidak mau ada siswa-siswi lain mengalami hal yang sama. Kami juga meminta Bupati, Muhammad Yasin Payapo dapat menyikapi hal ini, karena hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja,” pungkasnya. (IN-14/JSY)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top