Buru

Kasus Water Front City, Dua Pegawai Pemkab Buru Diperiksa Penyidik Kejari Namlea

korupsi

Ambon, Maluku – Kasus tindak pidana korupsi anggaran pembangunan Water Front City (WFC) di Kabupaten Buru masih diusut Kejaksaan Negeri (Kejari) Namlea, (11/10/2017), yang dilakukan penyidik Kejari Namlea dengan melakukan pemeriksaan terhadap tiga orang saksi, masing-masing dua saksi merupakan pegawai negeri pada kantor Bupati Buru, dan seorang lagi adalah pegawai swasta.

Dua orang pegawai Pemerintah Kabupaten Buru yakni berinisial FP yang diperiksa jaksa penyidik, W. Relmasira sejak pukul 11:00-12:30 WIT yang dicecar penyidik dengan 10 pertanyaan. Sedangkan AW adalah pegawai Dinas PUPR Kabupaten Buru diperiksa jaksa penyidik, R. Sampe dari pukul 14:00-17:00 WIT. AW dicecar dengan 50 pertanyaan.
Selain itu, penyidik R. Sampe juga memeriksa seorang pekerja swasta berinisial HF, sejak pukul 10:00-11:30 WIT. HF dihujani dengan 25 pertanyaan penyidik. Ketiga saksi ini diperiksa penyidik dalam proyek WFC di Namlea, untuk pekerjaan normalisasi dan reklamasi Pantai Merah Putih yang bersumber dari APBN tahun 2015.

“Dari informasi yang saya dapat, penyidik Kejari Namlea memeriksa (3 tiga) orang saksi dalam perkara dugaan korupsi proyek WFC dengan pekerjaan normalisasi dan reklamasi Pantai Merah Putih. Ketiga orang yang diperiksa adalah berinisial FP, AW dan HF,” akui Kasi.Penkum dan Humas Kejati Maluku, Samy Sapulette saat dikonfirmasi wartawan, (11/10/2017) melalui pesan singkat ponsel seluler.

Dirinya menambahkan, dalam penyidikan selanjutnya, penyidik nantinya akan memanggil pihak-pihak terkait lainnya, guna untuk memberikan keterangan. Kemudian, tim penyidik akan ekspos gelar perkara untuk mengetahui kerugian keuangan negara dari kasus dugaan korupsi tersebut.

Proyek WFC di Namlea, Kabupaten Buru yang bersumber dari APBN tahun 2015 senilai Rp.4,9 miliar ini telah selesai dikerjakan 100 persen pada tahap I. Kemudian dilanjutkan lagi dengan pekerjaan tahap II untuk WFC ini.
Untuk diketahui, pekerjaan tahap I proyek reklamasi tersebut dianggarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Buru yang bersumber dari APBN tahun 2015 sebesar Rp.4.911.700.000. Proyek dikerjakan oleh PT.Aigo Media Pratama milik salah satu keluarga dekat Bupati Buru Ramly Umasugi.

Anggaran sebanyak itu diperuntukan untuk pekerjaan pemancangan tiang dan penimbunan kawasan Pantai Merah Putih. Ternyata pemancangan tiang tidak pernah dikerjakan, tapi dilaporkan rampung 100 persen.
Sebut saja pekerjaan utama pemancangan tiang untuk meng¬ganti pondasi talud sepanjang 140 meter. Tapi tidak dikerjakan. Tidak ada tiang yang dipasang. Malah pekerjaan diganti dengan menimbun batu dari buangan bandara Namniwel di Desa Sawa.

Padahal pekerjaan pemancangan tiang sendiri dari data pelelangan, menghabiskan anggaran sebesar Rp.2,6 miliar. Anggaran tersebut untuk pemancangan tiang berdiameter 60 centimeter untuk 300 tiang.

Timbunannya juga yang seharusnya memakai tanah pilihan. Tapi namun diganti dengan limbah buangan yang diambil dari bandara Namniwel Sawa. Jika dihitung, total keseluruhan pekerjaan reklamasi pantai dan tiang pancang hanya menghabiskan Rp.1 miliar dari total kontrak senilai Rp.4,9 miliar.

Dan sejak awal tender yang dimulai dari proses lelang, diduga ada yang tak beres terjadi, antara panitia lelang Dinas PU Kabupaten Buru dengan PT.Aigo Media Pratama. Proses lelang disebut-sebut hanya formalitas. Sebab sejak awal sudah tersebar kabar PT.Aigo Media Pratama, keluar sebagai pemenang lelang. (IN-07)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top

This site is protected by wp-copyrightpro.com