Olahraga

Dua Atlet ASEAN Para Games Asal Maluku Dijamu Jokowi

Atlet Digfabel Maluku Erens Sabandar
Atlet Difabel Maluku, Erens Sabandar

JAKARTA- DUA atlet ASEAN Para Games 2017 Indonesia asal Maluku, Erens Sabandar dan Sapia Rumbaru, dijamu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Senin (2/10). Di ASEAN Para Games di Malaysia, Indonesia keluar sebagai juara umum. Dua atlet disabilitas Maluku ini juga ikut menyumbang medali bagi kontingen Merah Putih di ASEAN Para Games kali ini.

Sabandar menyumbang tiga medali emas di nomor lari, sementara Rumbaru memecahkan rekor ASEAN di cabang renang. Ketika pulang dari Malaysia, atlet ASEAN Para Games 2017 Kuala Lumpur pun menagih janji bonus kepada Presiden Jokowi.

Aspirasi itu disampaikan oleh Jendi Panggabean, peraih lima medali emas dari cabang olahraga renang, saat dijamu Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Senin. Dia ingin bonus kepada atlet peraih medali emas bisa segera diberikan.

“Semoga bonusnya segera bisa dibayarkan,” kata Jendi.

Jokowi kemudian langsung berbisik ke Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi. Jokowi memastikan bahwa bonus untuk para juara ini bisa segera direalisasikan.

“Saya tadi langsung bisik-bisik ke Pak Menteri. Kalau bisa, dalam satu-dua hari ini sudah dicairkan,” kata Jokowi.

Atlet-atlet difabel itu menyambut dengan bertepuk tangan tanpa menunggu keterangan lebih dulu dari Imam Nahrawi. Ada Rp 200 juta menanti peraih medali emas.

“Pak menterinya belum jawab, sudah tepuk tangan,” ujar Jokowi mencandai para atlet.

Dinda Laura, perenang, bersyukur atas bonus yang bakal diterimanya itu. Dia berharap agar bonus juga diberikan kepada orang yang berjasa untuk atlet, yakni pelatih. Bonus yang dimaskud di sini bukan uang, tapi status PNS sebagaimana yang dijanjikan diberikan untuk atlet berprestasi.

“Apa nggak ada kemungkinan pelatihnya juga dapat?” kata Dinda.

“Saya kira di PNS kan ada aturannya,” jawab Jokowi.

Atlet difabel lainnya, Waluyo, yang mengaku sebagai tetangga Jokowi di Sumber, Solo, Jawa Tengah itu mengungkapkan kalau kompetisi untuk atlet paralimpiade masih minim. Dia bilang itu bisa berakibat tidak baik ke aspek konsistensi kemampuan para atlet. Atlet yang berprestasi di ajang nasional dan internasional bisa kehilangan kemampuannya hanya gara-gara tak ada ajang untuk mengasah kemampuannya di daerah asal.

“Kekurangan kami, kompetisi kami masih kurang, baik yang single event maupun multi event,” kata Waluyo.

(IN/DNU/FEM/ROS)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top