Hukum & Kriminal

Cabuli Anak Dibawah Umur, Supir Angkot Leitisel diPolisikan

Cegah-Pelecehan-Seks-Pada-Anak

Ambon, Maluku – Perkembangan dunia yang semakin canggih dan modern membuat perilaku kehidupan manusia seakan tidak lagi sesuai dengan kaidah yang mengatur agar tertib dan menghargai harkat dan martabat sebagai sesama manusia. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya perilaku kekerasan dan tindakan asusila yang terus terjadi dengan motif yang berbeda untuk mencapai tujuan. Tercatat oleh Komnas Perlindungan Perempuan dan Anak, tidak sedikit kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia khusunya di Maluku lebih banyak di dominasi dengan kasus asusila yakni persetubuhan anak di bawah umur. Hukuman dan sanksi penjara tidak lagi di pandang sebagai efek jera, bagi para pelaku persetubuhan anak dibawah umur tersebut. Kasus persetubuhan anak dibawah umur terus berlanjut tanpa ada hentinya. Sebagaimana dimuat dalam Laporan Polisi nomor : LP/536/IX/Maluku/Res Ambon, kasus persetubuhan anak kembali dilakukan oleh salah seorang warga Kecamatan Leitimur Selatan bernisial C.M (31), kepada korban sebut saja bunga (13).

Paur Humas Polres P.Ambon dan P.P.Lease, Ipda Karimudin saat dikonfirmasi wartawan di ruangan Humas Polres, (12/9/2017), membenarkan adanya kasus asusila persetubuhan anak dibawah umur yang dilakukan oleh pelaku C.M yang merupakan warga salah satu Desa di Kecamatan Leitimur Selatan yang bekerja sebagai supir angkutan umum kepada korban. Sesuai dengan laporan yang diterima oleh pihak Sentra Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres P.Ambon dan P.P.Lease, Senin (11/9/2017) dari W.L yang merupakan ayah korban, dikronologikan kasus persetubuhan terhadap korban berawal dari ayah korban yang terbangun dari tidurnya pada hari Minggu, (10/9/2017) sekira pukul 00.30 Wit, mendapati pintu rumahnya dalam keadan tidak terkunci.

“ Ayah dari korban ini, terbangun dan melihat kondisi rumah yang tidak terkunci, mulai kuatir dengan sesuatu yang terjadi dengan kondisi keluarganya langsung mengecek kamar putrinya namun alhasilnya setelah melakukan pengecekan dikamar putrinya, kondisi kamar yang kosong yang tiba-tiba menghilang tanpa diketahui secara pasti oleh sang ayah. Ayah korban kemudian membangunkan istrinya untuk menemaninya mencari sang putri yang hilang entah kemana. Pencaharian terhadap putrinya yang hilang terus dilakukan oleh bersama dengan istrinya namun hasilnya sampi sorepun tak kunjung ditemukannya,” tutur Perwira Humas Polres P.Ambon dan P.P Lease berpangkat Inspektur Polisi Dua itu.

Lebih lanjut dikisahkannya, W.L kemudian mendatangi rumah A.M salah seorang keluarganya untuk menanyakan keberadaan putrinya yang sedang dicarinya bersama dengan sang ibu korban. A.G yang didatangi oleh ayah dan ibu korbanpun sempat panik melihat anak lelakinya yang saat itu juga tidak berada didalam rumah A.G. Melihat kedua anak lelaki dan perempuan dari keluarga W.L maupun A.G yang tidak berada di dalam rumah, membuat kedua keluarga bersepakat untuk melaporkan kasus orang hilang ini ke pihak Polsek Leitimur Selatan.

“ Setelah melaporkan kasus orang hilang ke pihak Polsek Leitimur, A.G ibu pelaku pun memberitahu ayah dan ibu korban kalau korban sedang berada bersama dengan anak lelakinya di rumah A.G yang telah dijemput oleh Anggota Polsek Leitimur Selatan. Setelah dijemput oleh Anggota Polsek Leitimur Selatan pelaku dan korban pun dibawah dari rumah A.G ke Polsek Leitimur Selatan untuk bertemu secara langsung dengan kelurga korban. Setelah berada di Polsek Leitimur Selatan dan bertemu dengan ibu dan ayahnya, korban mengakui telah disetubuhi oleh pelaku berulang-ulang kali dari tahun 2016 sampai bulan Agustus 2017,” ungkap Mantan Wakapolsek Lehitu kepada Wartawan diruangan kerja Humas Polres P.Ambon dan P.P.Lease.

Mendengar kisah pilu yang diceritrakan putrinya diPolsek Leitimur Selatan, W.L sang ayah dan ibu bersama korban pun mengajukan kasus persetubuhan anak dibawah umur dari Polsek Leitimur untuk kasusnya dilaporkan secara langsung oleh keluarga korban ke Pihak Polres P.Ambon dan P.P.Lease. Akibat dari perbuatannya itu pelaku C.M harus mendekam di rumah tahanan Polres P.Ambon dan P.P.Lease guna mempertanggung jawaban perbuatannya itu. Pelaku disangkakan dengan pasal 81 ayat (1) dan ayat (2) UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dan pasal 287 ayat (1) KUHPidana dengan ancaman 15 tahun penjara. (IN-07)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top