Ekonomi

Seram dan Buru Disiapkan Bantu Pola Pangan Nasional

20904467_1850273998321281_539779022_o
Gubernur Maluku Said Assagaff, dalam acara Panen Padi dan Penanam Perdana Bawang Merah di Desa Waimital, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Rabu (16/8/2017)

SBB, Maluku – Pemerintah Daerah Maluku tengah menyiapkan dua pulau terbesar di Provinsi yang dijuluki seribu pulau ini dalam membantu pola pangan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Maluku Said Assagaff, dalam acara Panen Padi dan Penanam Perdana Bawang Merah di Desa Waimital, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Rabu (16/8/2017).

Menurut Gubernur, ketika dirinya bersama Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Diana Padang bertemu dengan Menteri Pertaniaan, Amran Sulaiman, dirinya sering mengatakan, kenapa harus jauh-jauh kita impor sapi, sementara di Pulau Seram masih bisa hidup satu juta ternak sapi.

“Kenapa kita tidak kembangkan saja di Pulau Seram dan di Pulau Buru. Saya pingin Pulau Seram menjadi lumbung ternak baru di Kawasan Indonesia Timur,” tandas Assagaff.

“Kita doakan semua langkah-langkah kita. Saya bilang Pak Menteri Pertanian, di Maluku, kita kembangkan padi sawah hanya di Pulau Buru dan Pulau Seram. Sedangkan di pulau yang lain, kita tidak berani dikarenakan yang lain itu pulau-pulau sedang dan kecil, untuk komsumsi pangan lokal masyarakat,” bebernya.

20930416_1850274114987936_1200875691_oGubernur juga mengaku bahwa, secara sadar Pemerintah Daerah Maluku tidak akan merobah pola komsumsi pangan masyarakat dari belum mengkonsumsi beras ke mengkonsumsi beras.
Dia menyebutkan, jika satu ketika masyarakat di daerah kepulauan ini punya uang lebih, lalu mau makan nasi, ya silakan saja. Pada kesempatan tersebut, Gubernur juga menyampaikan kepada Bupati SBB Yasin Payapo, bahwa daerah ini masih kekurangan beras.

“Pak Bupati, kita ini masi kekurangan beras. Maluku masih kekurangan beras sekitar 28 sampai 29 ribu ton. Semalam saya hitung sekitar itu. Ya dari luas areal sekitar 20 ribu hektar sawah irigasi, itu baru bisa produksi sekitar 99 ribu ton. Sedangkan kebutuhan kita 128 ribu ton,” ungkap Assagaff.

Untuk mengisi kekurangan beras sekira 29 ton tersebut, menurut Assagaff, terpaksa didatangkan dari luar.

“Ya mudah-mudahan sawah irigasi di Pulau Buru tahun ini, kita tingkatkan terus, dan kebutuhan kita dari luar itu, kita hentikan,” tandasnya.

Sedangkan untuk lahan sawah irigasi di SBB, Assagaff katakan, tercatat baru 945 hektar, dengan produksi masih 40 ribu ton.

“Padahal kebutuhan masyarakat di SBB itu masih kurang 1.500 ton per tahun. Mudah-mudahan dengan pupuk yang semakin bagus, kita berharap produksi bisa kita ditingkatkan,” harapnya.

Lebih lanjut Assagaff menyebutkan, dirinya dan Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo beberapa waktu lalu menandatangani memorandum of understanding (MoU), terkait apa kebutuhan Provinsi Maluku, yang akan dipasok dari Provinsi Sulawesi Selatan. Sebaliknya, apa kebutuhan Sulawesi Selatan yang bisa dipenuhi dari Maluku.

“Dari MoU itu, ada empat kebutuhan kita yang akan dikirim dari Sulawesi Selatan untuk Maluku. Nanti Dinas Perindustrian dan Perdaganagan tolong tindak lanjuti itu,” ujar Assagaff.

Dia katakan, saat itu sudah disampaikannya, bahwa bulan Agustus ini, atau September sudah harus dijajaki di Sulawesi Selatan.

“Yang pasti Sulawesi Selatan, sudah menyatakan membutuhkan dua komoditi dari Maluku, yaitu kita ikan dan hasil bumi,” ungkapnya. (IN-06)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top