Lintas Maluku

Prof, Dr Dieter Bartels Rilis Buku, “ Pela Gandong” Simbol Perdamaian Islam-Kristen Di Maluku

21122891_1576700455686569_1239167275_o

Ambon, Maluku – Sepintas terlintas dibenak kita, konflik kemanusian yang terjadi di Maluku beberapa tahun lalu menyisahkan kisah pilu bagi masyarakat Muslim maupun Nasarani yang ada di Provinsi yang berjuluk negeri Raja-Raja ini. Hubungan yang dulunya harmonis dan akrab yang telah dibina oleh para Leluhur akhirnya berubah menjadi sebuah pertikaan berdarah antara orang bersaudara Salam dan Sarani. Namun hal ini dapat diselesaikan melalui mediasi perdamaian dengan pendekatan Pela dan Gandong sebagai pemersatu kehidupan persaudaraan diantara komunitas Masyarakat Muslim dan Nasarani yang ada di Maluku. Hal itu dibuktikan dengan diluncurkannya Buku yang berjudul “Di bawah naungan Gunung Nunusaku, Muslim- Kristen hidup berdampingan di Maluku Tengah (Malteng)” yang ditulis oleh Prof, Dr Dieter Bartels berkebangsaan Jerman, pada (24/8/2017).

Dalam pemaparanya mengenai konsep untuk menulis buku di bawah Naungan Gunung Nunusaku, Muslim- Kristen hidup berdampingan di Maluku Tengah (Malteng), Prof. Dr Dieter Bartels mengatakan buku yang menceritakan kehidupan orang Maluku terutama yang tinggal di Pulau Ambon yang telah dipelajarinya sejak 50 tahun lamanya.

“ Ceritanya dimulai dari tahun 1964 dimana saat itu saya baru pertama kalinya tiba di Indonesia dengan Visa (Tanda bukti ‘boleh berkunjung’ yang diberikan pada penduduk suatu Negara jika memasuki wilayah negara lain yang mempersyaratkan adanya izin masuk) yang seharusnya berlaku hanya 2 minggu, tetapi selama 2 minggu itu Visanya bisa diperpanjang. Sehingga Saya memilih untuk tinggal di Maluku selama 3 bulan lamanya. Sejak saat itu saya mulai jatuh cinta dengan Indonesia,” tutur Guru Besar Antropologi asal Jerman itu.

21103962_1576701185686496_171867569_oDikisahkannya, sebagai seorang Antropolog yang sedang menekuni pendidikan di Universitas Corneo New York, pada semester pertama dirinya telah banyak belajar tentang Antropologi, sehingga membuatnya harus menentukan negara mana yang harus dituju untuk dimulainya penelitian Antropologi yang dipelajarinya. Dirinya kemudian memutuskan untuk memilih Negara Indonesia sebagai pusat penelitian Antropologi. Setibanya di Indonesia, dirinya tidak lagi mempelajari Antropologi yang ada di Pulau Jawa maupun Pulau Bali karena sudah banyak dipelajari oleh banyak Ilmuan Antropologi sehingga membuat dirinya kemudian melanjutkan perjalan balik ke Belanda. Singkat ceritanya, ketertarikan dirinya untuk mempelajari sejarah dan budaya Pela di Maluku berdasarkan referensi-referensi yang dipelajarinya di perpustakaan Universitas Corneo New York tentang budaya di Maluku dari zaman Portugis maupun zaman sekarang.

“Saya sendiri merupakan warga Negara Jerman yang memulai pendidikan di Universitas Washington Amerika Serikat, kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Corneo di New York. Pada semester pertama di Universitas Corneo saya banyak belajar tentang Antropologi sehingga dari ilmu Antropologi yang didapati di Universitas Corneo New York, saya kembangkan dengan memilih Indonesia. Di Belanda, saya menemukan beberapa pemuda Maluku yang melakukan pembunuhan terhadap salah seorang Polisi di Kantor Kedutaan Jeman di Denhaag, sehingga muncul sebuah pertanyaan dibenak kecil saya, siap orang-orang ini. Saya belum pernah dengar tentang orang Maluku. Sehingga saya kembali ke Perpustakaan di Universitas Corneo dengan membaca beberapa referensi tentang sejarah dan kebudayaan Maluku zaman Portugis maupun zaman sekarang. Selaku seorang Antropolog, saya mulai tertarik untuk mempelajari sejarah dan kebudayaan yang ada di Maluku. Saya kemudian berangkat ke Maluku tepatnya di Kapubaten Maluku Tengah,”Jelas Bartels.

Dikatakanya, ketertarikan dirinya untuk mempelajari sistim Pela yang terlihat dikehidupan Masyarakat Maluku Tengah membuat dirinya menetap beberapa waktu untuk mempelajari sistem Pela yang ada di kehidupan masyarakat Kabupaten Maluku Tengah.

“2 tahun di Maluku saya kemudian mengelilingi beberapa Daerah di Maluku seperti, Pulau Lease, dan di Pulau Seram dan hampir kurang lebih 101 kampung di Maluku telah saya kunjungi. Pela yang saya pelajari disetiap kampung-kampung di Maluku merupakan sebuah sistem hubungan yang dilakukan dengan sumpah. Kalau sudah ambil sumpah berarti sudah seperti orang saudara yang tidak bisa ada unsur saling nikah antara sesama Saudara dalam yang dilakukan dalam ritual adat antara kampung Kristen dengan kampung Kristen maupun kampung Kristen dengan kampung Muslim. Sehingga secara Riset memang kebenaran hubungan antara masyarakat Muslim dengan masyarakat Kristen terus dijaga dari abad ke abad,” Tandasnya.

Dirinya berharap Pemerintah Maluku haruslah terus melestarikan budaya pela gandong di kalangan Masyarakat Muslim-Kristen sehingga suku-suku bangsa dari setiap daerah-daerah yang ada di Maluku mampu menerapkan budaya pela gandong sekalipun bukan asli dari Maluku.

“ Saya berharap tidak lagi ada diskriminasi dan pertikaian dikalangan orang Kristen dan orang Muslim yang ada di Maluku dan Indonesia pada umumnya,” harap Bartels

Selain itu untuk menanggapi ulasan isi buku yang ditulis oleh Prof. Dr Dieter Bartels, Prof, Hermin Soselisa sebagai tokoh pemerhati sejarah dan budaya di Maluku mengatakan penulisan desertasi yang dituliskan Prof. Dr Dieter Bartels tentang Pela yang dijabarkan dalam kehidupan orang Ambon Kristen dan orang Ambon Muslim.

“ Disertasi ini merupakan suatu karya atau bahan Akademik yang penting untuk Maluku. Sebagaimana yang diulas oleh Pak Bartel tentang hidup berdampingan Masyarakat Kristen dan Masyarakat Muslim Di Maluku,” tutur Srikandi yang menjadi Guru besar di salah satu Universitas ternama di Indonesia ini.

Menurutnya, sebenarnya konsep Pela itu tidak termakan waktu, konsep Pela hanya mengalami perubahan-perubahan dari segi adat yang berpindah ke belahan agama. Pengalaman sebagai daerah yang pernah dilanda konflik Sosial akibat dari semakin merosotnya wibawa adat.

“Orang tidak lagi taat kepada adat. Pranata sosial dan Tokoh-Tokoh adat tidak lagi dihargai dan dihormati. Selain itu juga terjadi degradasi dikalangan Tokoh-Tokoh Adat di Maluku. Kalau dilihat Kebudayaan Maluku memiliki kebudayaan dualistik yang bila dipertahankan maka mungkin tidak lagi ada Konflik Sosial di Maluku. Di dalam kebudayaan dua listik yang ada di Masyarakat Maluku berciri Monodualisme, ada komplementer, ada kelengkapan antar belahan satu dengan belahan lainya,” ungkap Prof, Hermin Soselisa.

Dikatakannya, berbicara tentang Nunusaku berarti berbicara tentang Monodualistik yaitu tentang Uli Siwa Dan Uli Lima yang tidak pernah mencaplok wilaya-wilayah di Maluku.

“Uli siwa adalah persekutuan sembilan bersaudara dipimpin Tidore yg terdiri dari Tidore,Makean,Halmahera,Kai,dan pulau-pulau sekitarnya sampai ke Irian (Papua) bagian barat.
Uli lima adalah persekutuan lima bersaudara yg dipimpin oleh Ternate yang terdiri dari Ternate,Bacan,Ambon,Obi dan Seram,” tandas Soselisa.

21057683_1576698885686726_366429852_oDi sisi lain selaku Mantan Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Pdt Dr Jhon Ruhulesin mengatakan menanggapi tentang konsep Pela di Maluku sebagai mana yang dituliskan oleh Prof. Dr Dieter Bartels dalam bukunya di bawah Naungan Gunung Nunusaku, Muslim- Kristen hidup berdampingan di Maluku Tengah (Malteng) adalah sebuah hasil akademik yang dimuat berdasarkan kecintaan terhadap Maluku.

“Orang Maluku seharusnya memberikan apresiasi buat Prof. Dr Dieter Bartels seorang Profersor asal Jerman yang memiliki kepedulian terhadap Masyarakat Maluku baik yang ada di Maluku maupun orang Maluku yang berada di Belanda. Berbicara soal gerakan separatis Republik Maluku Selatan (RMS) sangat terjadi dengan kehidupan orang Maluku yang ada di Negeri Belanda,” tutur Sang Doktor yang pernah menjabat selaku Mantan Ketua Sinode itu.
Menurutnya, buku yang ditulis oleh Prof. Dr Dieter Bartels merupakan Master Perdamaian (Master Peace) yang mana dikupas tentang sejarah dan budaya orang Maluku yang menceriatakan tentang prespektif kehidupan masyarakat Muslim dan Kristen di Maluku. Ini kemudian menjadi sebuah pertanyaan bagi kita sebagai orang Maluku tentang relevansi kehidupan orang Muslim dan Kristen yang ada di Maluku sekarang ini.

“ Berbicara Pela bukan hanya sebagai sebuah simbol kultural di Maluku, melainkan Pela merupakan sebuah prespektif etik dalam membangun sebuah kehidupan perdamain bersama di Maluku. Perdamain itu orang harus memiliki rasa kedamaian, rasa keadilan dan perdamaian yang permanen tidak hanya berbicara tentang orang Kristen dan orang Muslim, ” ungkap Dr Jhon Ruhulesin.

Dikatannya berbicara permasalahan konflik di Maluku adalah berbicara bagaimana kehidupan kekeluargaan (Pela) yang salah satu faktor penyebab Konflik di Maluku adalah kebuntuan komunikasi di semua lapisan masyarakat di Maluku.

“ Cara merangkul yang dilakukan oleh Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo dengan merangkul semua lapisan masyarakat yang pernah terlibat dalam Gerakan Separatis Maluku Selatan (RMS) yang banyak dijauhi oleh semua orang di Maluku. Masalah yang paling serius di Maluku ini adalah bagaiman masyarakat Maluku harus mampu menghindar dari Poliitik kekuasan dan harus mampu mewujudkan Politik Kesejahteraan,” ujar Ruhulesin. (IN-07)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top