Seram Bagian Barat

Kirab Budaya Peringati HUT Kemerdekaan RI Dibuka Bupati SBB

21014618_1455054411256287_1467802047_o
Bupati Drs. Muhammad Yasin Payapo, M.Pd dan Wakil Bupati Timotius Akerina, SE, M.Si Membuka Kirab Budaya Jawa, di Desa Waihatu, Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, Minggu, (20/8/2017)

SBB, Maluku – Bupati Drs. Muhammad Yasin Payapo, M.Pd dan Wakil Bupati Timotius Akerina, SE, M.Si terlihat kompak  menghadiri kegiatan  dengan melepas kirab budaya Jawa, di Desa Waihatu, Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, Minggu, (20/8/2017). Kirab Budaya kali kedua ini dilakukan dalam rangka memeriahkan peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI.

Kirab Budaya 2017, yang dilaksanakan di Desa Waihatu, Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten SBB tersebut dihadiri langsung oleh Bupati, Wakil Bupati, Sekda, Plt Camat Karbar Frientje Laturette, Plt Kades Waihatu Wiratno, Danramil Kapten Inf. Bambang Setiono, dan dari unsur tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda dan ribuan masyarakat tumpah ruah dibawah guyuran hujan.

20993134_1455053214589740_675139540_oSebelum pelaksanaan kirab budaya, Bupati dan Wakil Bupati mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang diawali dengan acara pembasuhan kaki dengan bunga tujuh rupa, yang dibawa oleh dayang-dayang. Selanjutnya disuguhkan kesenian pencak Silat dari perguruan Setia Hati Terate dan Cempaka Putih yang menampilkan perkelahian dengan toyah (tongkat red), tangan kosong, yang terdiri dari 6 orang berpasangan kombinasi dan setelah selesai pelaksanaan kirab budaya diawali dengan Marching Band diikuti dengan iring-iringan peserta kirab, seperti jaranan (Kuda kepang red), klenengan atau Gamelan, sepeda othel group.

“Budaya ini kita punya, meskipun berasal dari Jawa, tetapi milik Kabupaten SBB, nanti kita padukan semua dan saatnya nanti dapat kita pentaskan secara besar-besaran, kita ramaikan kota Piru,” jelas Bupati dalam sambutannya seraya katakan sepakat bahwa kedamaian di Desa Waihatu dapat menjadi icon dan orang boleh belajar kedamaian harus datang ke Desa Waihatu.

Dikatakannya, kirab budaya ini bisa dijadikan ajang untuk melestarikan adat dan budaya apalagi di Desa Waihatu kaya akan seni budaya yang di sebabkan berbagai macam suku bercampur di desa ini. Kegiatan ini mampu memupuk kebersamaan dan persatuan.
Menurutnya, walaupun kondisi cuaca kurang mendukung dan hujan lebat akan tetapi semangat masyaraka sangat luar biasa.

“Saya berharap nilai-nilai budaya ini diapresiasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga dapat menunjukkan suatu kebersamaan dan Kebhinekaan Tunggal Ika dalam menyatukan karakter anak bangsa,” pintanya.

Dikatakan, kirab budaya dari berbagai daerah tercampur jadi satu di Waihatu ini merupakan suatu kekayaan.
Desa Waihatu merupakan Icon perdamaian dimana di Waihatu terjalin keharmonisan kerukunan umat beragama antara Islam dan Nasrani hidup berdampingan dalam satu atap. Kita usahakan memperbaiki seluruh Daerah Sungai dan jembatan di Kabupaten SBB terutama perbaikan tanggul untuk menyelamatkan hasil pertanian, serta pagar SD Inpres Waihatu sesuai permintaan Masyarakat Desa Waihatu.

“Kegiatan Tour molucas dan Pesparawi tingkat Provinsi di Kabupaten SBB nanti saya mengharapkan kepada masyarakat dapat membersihkan wilayahnya, serta kita akan merubah Kabupaten ini dibandingkan sebelumnya, sehingga mendapatkan apresiasi dengan hadirnya para peserta kegiatan Molucas dan Pesparawi nanti. Kita akan mensosialisasikan penanaman Jagung dan Kelapa sejuta pohon di Kabupaten SBB dengan mengoptimalkan lahan lahan tidur,” pungkasnya.

20993226_1455072031254525_86632274_oSelain itu karateker Kades Waihatu, Wiratno mengatakan bahwa kegiatan Kirab Budaya (parade budaya red) digelar dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-72 dan bertujuan untuk menumbuhkan kreativitas seni dan budaya yang ada di Desa Waihatu.

“Kirab budaya ini dilatarbelakangi adanya kekhawatiran mulai tergerusnya budaya lokal karena gempuran teknologi informasi,” jelasnya.

Lanjutnya sebagian besar atau 75 persen masyarakat di Desa Waihatu berprofesi sebagai petani. Parade budaya ini juga sebagai ajang membangun tali silahturahmi dan persaudaraan antara warga dan pemuda se-Desa Waihatu, sehingga kegiatan ini mampu membawa dampak positif.

“Kami berharap peran serta pemerintah daerah sehingga ke depan kegiatan seperti ini dapat terlaksana lebih besar lagi dan menjadi icon Desa Waihatu,” tandasnya.

Kegiatan ini akan kami gelar setiap tahun, untuk menumbuhkan bakat-bakat seni yang ada di Desa Waihatu, khususnya generasi muda. Kegiatan parade budaya ini selenggarakan dengan anggaran dari anggaran pendapatan desa Waihatu dan bantuan dari para donatur.

Lebih jauh Wiratno tegaskan, kirab budaya ini bukan hanya di Jawa, tetapi juga ada di Pulau Seram, khususnya Jawa Seram Barat.

“Kegiatan ini akan menjadi icon, karena di Desa Waihatu terdiri dari banyak Suku, komitmen kita pada Tahun 2018 wajib hukumnya semua masyarakat Desa Waihatu dapat menampilkan budaya masing-masing bukan hanya sebatas budaya Jawa saja. Kita berada di Desa Waihatu sejak 43 tahun lalu, dan terbukti kita disini paling rukun. Boleh saja Gong Perdamaian di Kota Ambon, Maluku tapi di Waihatu dapat dijadikan sebagai contoh, bahkan, Desa Waihatu satu-satunya yang paling aman, Masjid dan Gereja berdiri berdampingan, tidak tersentuh konflik sosial 1999 lalu,” tegasnya. (IN-14/JSY)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top