Pendidikan

Gubernur : Guru Harus Bertransformasi dari Suka Kewel di Depan Kelas, Menjadi Guru Yang Bermutu

Gubernur Maluku

AMBON,MALUKU – Gubernur Maluku Said Assagaff meminta para guru di Maluku untuk meningkatkan mutu dengan  rajin mengkonsumsi buku (banyak baca).

“Beta mau kasih inga para guru sekalian harus banyak baca, dan kalau banyak baca harus rajin beli buku, terutama bagi bapak-ibu guru yang sudah memperoleh uang sertifikasi atau uang tunjangan,” ujar Gubernur Assagaff pada pelaksanaan kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) serta Guru Berperstasi, di Baileo Siwalima, Karang Panjang, Ambon, (12/8/2017).

Assagaff juga meminta, agar para guru di Maluku, menjadi guru yang memiliki kompetensi profesional yang handal, yaitu kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.

Profesi Guru atau Tunjangan Profesi Guru (TPG) itu, menurut Assagaff, merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru yang sudah teruji kompetensinya, baik itu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, maupun kompetensi sosial.

gubernur bacaUntuk itu, dia mengajak para guru agar menyisihkan uang sertifikasi atau TPG yang sudah diterima itu, digunakan untuk meningkatkan kualitas kompetensi mereka.

“Terkait dengan kompetensi profesional tersebut, beta mau nanaku bapak-ibu sekalian di daerah ini untuk mari kalesang diri dan bertransformasi dari guru suka kewel di depan kelas, menjadi guru yang bermutu dan profesional,” tuturnya.

Dia menambahkan, termasuk bertransformasi dari tipe guru yang suka gosip, (yang sumbernya dari cerita teman atau medsos) kepada tipe guru yang suka membaca buku, jurnal, artikel dan suka meneliti.

“Ingat, gosip itu rumusnya, tidak penting benar yang penting masuk akal Guru yang suka gosip, bukan guru yang profesional, tapi guru yang profesional, ketika mengajar berbicara selalu berbasis data yang ilmiah,” katanya.

Dia lantas mengajak para guru, agar merawat atau mengembangkan pikiran dan pengetahuan dengan rajin belajar atau membaca untuk menjadi guru yang profesional, karena dengan rajin belajar atau membaca akan menentukan pikiran, pengetahuan dan masa depan kita.

“Seorang filosof China Kuno, bernama Lao Tze, berbunyi, Perhatikan pikiranmu, karena pemikiran akan berkembang menjadi kata-kata. Perhatikan kata-katamu, karena kata-kata akan berkembang menjadi perilaku. Perhatikan perilakumu, karena perilaku akan berkembang menjadi kebiasaan. Perhatikan kebiasaanmu, karena kebiasaan akan berubah menjadi karakter,” paparnya.

Dia mengingatkan para guru juga, agar memperhatikan karakter masing-masing, sebab karakter dapat menentukan nasib masing-masing.

Selain kepada para guru, Assagaff juga mengajak para guru yang kepala sekolah, agar menjadi guru yang visioner, yaitu guru yang bukan hanya menumpuk persoalan dengan mengeluh dan bertanya mengapa, tetapi bagaimana menjadi guru yang solutif dan selalu bertanya tentang bagaimana cara menyelesaikan persoalan/permasalahan sambil menyusun cita dan harapan kepada peserta di ke masa depan.

“Itulah guru yang inspiratif. Guru seperti yang kita harapkan menjadi inspirator untuk anak didik, dalam rangka membawa gerbong pendidikan di daerah ini, agar bisa berprestasi di era kompetisi global hari ini. Jika tidak, dunia ‘seng mester deng katong atau seng direkeng,” ujarnya.

gubernur baca1Guru, dinilai Assagaff, tidak hanya bertanggung jawab dalam pembentukan hard competency atau hard skill didik saja, tetapi juga soft competency atau soft skill-nya.

“Sebagaimana empat pilar pendidikan yang dicanangkan UNESCO, yaitu: learning how to know, learning how to do, learning how to be, dan learning how together,” ungkapnya.

Hal ini, tambah Assagaff, meniscayakan kita, agar manusia yang kita bina dan kita bangun bukan “separuh manusia” tetapi manusia seutuhnya, yaitu selain kecerdasan intelektual dan terampil, juga kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual, sebaga pendidikan berbasis karakter dalam kurikulum 13 (K13).

Dalam konteks ini, Assagaff menyebutkan, guru harus menjadi model memberi contoh atau teladan yang baik untuk peserta didik. Karena dalam pendidikan nilai atau pendidikan berbasis karakter, nilai itu bukan hanya dibicarakan atau diajarkan, tetapi harus dicontohkan atau ditunjukan

“Selanjutnya, untuk memajukan pendidikan di daerah ini, bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Mari berinvestasi dan menafkahkan sebagian harta, tenaga, pengetahuan, dan keterampilan kita untuk kemajuan pendidikan di daerah ini,” pungkasnya. (IN-06)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top