Hukum & Kriminal

Penyuap Proyek PUPR Akui Berikan Rp 330 Juta ke PDIP untuk Pilkada

Foto Antara

Jakarta- Komisaris PT Cahaya Mas Perkasa, So Kok Seng alias Aseng, mengaku pernah mengalirkan uang Rp 330 juta ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Uang itu dialirkan untuk membantu kepala daerah yang diusung PDIP saat kampanye Pilkada.

Menurut Aseng, bantuan tersebut diberikan atas permintaan Direktur Utama PT Windu Tunggal Utama, Abdul Khoir. Saat itu, kata dia, Khoir meminta dirinya untuk ikut patungan dalam kampanye tersebut, yang uangnya akan diberikan kepada anggota Komisi V DPR Fraksi PDIP, Damayanti Wisnu Putranti.

“Urunan Rp 330 juta, Rp 1 miliar dibagi tiga, ada saya, Khoir, dan Alfred (pengusaha),” ujar Aseng di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (12/7) sebagaimana dilansir Kumparan.Com.

Aseng menegaskan, aliran uangnya untuk PDIP tidak terkait dengan kasus korupsi dana aspirasi DPR di Maluku dan Maluku Utara. Dalam kasus tersebut, Aseng duduk di kursi terdakwa.

“Bukan uang proyek, itu saya diminta Alfred dan Khoir, mau partisipasi apa tidak, saya bilang ikut saja. Tidak ada tujuan apapun di situ,” jelas Aseng.

Adapun transaksi pemberian uang tersebut, kata Aseng, dilakukan pada tahun 2015 di Plaza Senayan. Saat itu ia mengaku tak pernah mendengar nama Damayanti.

“Tidak ada (niat untuk memuluskan kontrak). Saya baru kenal di Plaza Senayan, makan, setelah itu pergi. Saya tanya Khoir siapa itu Damayanti. Lama-lama saya tahu kalau dia dari PDIP,” ujar Aseng.

Padahal dalam surat dakwaan disebutkan, Aseng diduga menyuap tiga anggota DPR dan seorang pejabat di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Suap diberikan agar dia mendapatkan proyek rekonstruksi jalan pada Kementerian PUPR tahun anggaran 2016.

Tiga anggota DPR terdebut, adalah Damayanti (PDIP), Musa Zainuddin (Partai Kebangkitan Bangsa), dan Yudi Widiana Adia (Partai Keadilan Sejahtera). Ketiganya merupakan anggota Komisi V DPR yang merupakan mitra kerja Kementerian PUPR.

Aseng juga diduga menyuap Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) IX daerah Maluku dan Maluku Utara, Amran HI Mustary. Seluruh suap itu dilakukannya bersama Khoir, dengan total suap Rp 13,8 miliar, 427.027 dolar AS, dan 328.377 dolar Singapura. (IN/KUM)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top