sejarah dan legenda

Legenda Negeri Amahusu Kota Ambon

amahusu-beach

INTIM NEWS – Amahusu adalah desa yang ada di pinggiran pusat kota Ambon. Letaknya yang tak jauh dari kota Ambon membuat Desa ini sering dijadikan sebagai salah satu tempat berlabuh perahu layar peserta lomba layar Darwin-Ambon.

Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki oleh Desa Amahusu, tahukah pembaca legenda berdirinya Desa Amahusu? Yang belum tahu mari kita simak.

Dahulu kala di pulau Banda ada seorang raja yang bernama Lawataka (Lautaka) dan isterinya Mulika Nyaira Banda Toka. Keduanya mempunyai 7 orang anak satu diantaranya berjenis kelamin perempuan yang bernama Boiratan. Mereka juga memelihara anak lelaki raja Sahulau. namun, ketika raja Sahulau itu meninggal dunia maka putranya itu kembali Seram dan menggantikan ayahnya . tak sampai beberapa lama kemudian, puteri Boiratan mengandung. Keenam saudara laki-lakinya mejadi marah dan saling menuding bahwa ada di antara mereka yang berbuat onar dengan adik perempuan mereka itu sebab tidak ada orang lain yang hidup bersama mereka. Karena tak ada yang mengku maka mereka bersabar menunggu kelahiran bayi tersebut . Pada bayi sudah berumur satu tahun dan mulai merangkak, maka mereka membuktikan siapa ayah bilogis anak tersebut.

Dibuatlah sebuah lingkaran yang mengelilingi bayi itu dan keenam saudara lelaki boiratan berdiri mengeilingi bayi itu. Mereka mengelilinganya sambil memegang sebilah parang. Maksudnya ialah bilamana si bayi merayap menghampiri seorang dari mereka dan memegangnya maka si bayi itu harus ditebas. Namun sang bayi hanya berputar putar dalam lingkaran tanpa mendekati seorang diantara mereka. Maka bayi itu dipelihara hingga besar.

Boiratan bersama anaknya yang telah beranjak remaja itu meninggalkan saudara-sudaranya dan berangkat ke Sahulau untuk menemui raja yang adalah ayah si anak . Boratan bermaksud kawin dengan raja Sahulau. Akan tetapi raja menolak menjadikan Boiratan sebagai isterinya. Ternyata baginya kekuasaan itu lebih besar dibanding kekuasaan raja Lawataka (ayah Boiratn) sehingga tak pantas sang raja menikah dengan Boiratan.

Sedih dengan perkataan ayah biologis anaknnya, Boiratan dengan anaknya kembali berlayar dengan Padewakang dan akhirnya mereka tiba pada suatu tempat dekat negeri Latuhalat yang bernama ‘’nama’’. Mereka pun tak lama dikawasan itu. Keduanya kemudian berlayar menyusuri pantai melewati Tanjung Nusaniwe dan kemudian menyusur Pantai labuha Seilale dan Ery , dan Akhirya sampai pada satu tempat yang bernama batu pasang-pasang.

Mereka meninggalkan tempat ini dan naik ke darat menelusuri semak-semak dan hutan berlukar sambil merintis jalan degan galah atau tokang dari bambo yang dibawanya. Selang beberapa saat menyusuri hutan, mereka tiba di sebuah bukit yang diberi nama Gunung Nona dan Gunung Tola. Di tempat ini Boiratan menikam bambu yang di bawanya dan tumbuh hingga saat ini. Bamboo itu lantas dinamakan bamboo Suanggi. Tempat ditancapkannya Bambu Suanggi itu yang kemudian disebut sebagai Armahusi .

Namun, ternyata Armahusi tidak terlalu aman untuk ditinggali karena diusik oleh suku setempat. Mereka lalu meminta bantuan dari Arusi suatu perkampungan di Nusaniwe, dan dikirimkannya Kapitan Sounusa yang bernama Mainake yang di bantu oleh Kapitan Samajotu (Soplanit). Musuh dapat di halau sampai ke Karang Tagepe dan mereka berhenti di tempat yang di beri nama Ura (Ura-hura : Menang) . Kemudian pertemuan di teruskan lagi dan sampailah ke Bukit karang . Anak Boiratan menikam tombak bambo yang selalu di bawanya itu dan keluarnya air dri celah-celah batu karang . tempat itu kemudian di kenal dengan nama ‘’Wanitu’’ (Wai ; air , Nitu : setan ).

Kapitan Mainake yang masing-masing bernama Hatupau dan Tomariki. Anak Boiratan kemudian kawin dengan anak parempuan Kapitan Leinussa dan bertambah penghuni negeri lama itu kemudian turun ke pantai dan berdiam diantara waiila dan waipia . Mereka memakai gelar Latuwakang artinya Raja yang datang dengan Pewakang (gusepa). Demikian legenda Negeri Amahusu yang diambil redaksi INTIM NEWS dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat !! (**)

Diambil dari berbagai sumber

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top