Maluku

Engelina Pattiasina “Sang Srikandi” di Tengah Bursa Pilgub Maluku

Enggelina Foto

AMBON,MALUKU- Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Maluku naik setiap tahun meski tidak sampai satu persen. Namun, tidak dibarengi dengan penurunan angka kemiskinan yang signifikan di Maluku. Maluku tetap sebagai provinsi miskin ke empat. Maluku membutuhkan figur perempuan yang memiliki kemampuan dan kualitas. Engelina Pattiasina diharapkan menjadi figur perempuan dalam pemilihan gubernur Maluku 2018.

Demikian pandangan Pengamat Ekonomi Universitas Pattimura, Dr. Maryam Sangadji dan Tokoh Perempuan, dr. Helsiana Huliselan dalam kesempatan terpisah di Ambon, (18/6).

Baik Maryam maupun Helsiana mengatakan, dalam berbagai kesempatan sangat kelihatan kalau Engelina memiliki visi dan gagasan yang sangat baik untuk menyelesaikan persoalan mendasar di Maluku.

Maryam yang juga Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Pattimura, mengatakan, Maluku memiliki potensi kekayaan alam yang begitu besar, namun masih hidup termarjinalkan. Hal ini menandakan pertumbuhan ekonomi belum mampu meningkatkan kualitas masyarakat.

Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi rata-rata Maluku disumbangkan dari sektor pertanian, yang berasal dari para petani yang hidup di pedesaan. Tercatat 62 persen lebih masyarakat Maluku hidup di pedesaan, dengan kantong kemiskinan mencapai 22 persen lebih, dan 7 persen dari perkotaan.

“Ironisnya di satu sisi sektor pertanian berkontribusi cukup tinggi bagi pembangunan , tapi justru masyarakat pedesaan penyumbang angka kemiskinan di Maluku, sehingga terlihat ada kesenjangan pembangunan,” jelasnya.

Untuk mempercepat strategi pembangunan ekonomi di Maluku, kata Maryam, pembangunan harus bergerak dari pedesaan, sehingga bersinergi dengan nawacita dari Jokowi-JK, yaitu membangun dari pinggiran yang sangat cocok untuk Maluku.

Dia menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Pedesaan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, indeks desa membangun (2014), dari 1050 lebih jumlah desa Di Maluku, ternyata 46 persen lebih dikategorikan sangat tertinggal, dan 41 persen lebih tertinggal.

Dengan demikian, pergerakan pembangunan ekonomi harus segera dilakukan melalui pedesaan, agar semua pertumbuhan ekonomi masyarakat bisa digerakkan. Menurutnya, potensi sumber daya alam di Maluku sudah tidak diragukan lagi, namun pengembangan potensi itu sendiri belum ada.

“Kita punya potensi pertanian lain, penjualan masih dalam bentuk bahan baku, belum ada diserfikasi atau home industry. Masih dalam bentuk ikan segar, bukan dalam bentuk ikan kaleng, sehingga nilai tambah sangat kecil sehingga tidak bisa diharapkan,” tegasnya.

Akademisi Maluku ini juga menyatakan, Blok Migas Masela secara strategis dinilai mampu untuk menyerap tenaga kerja, sehingga semua komponen termasuk sumber daya manusia harus dikuatkan.

Menyikapi kondisi ini, Maryam berpendapat, figur yang akan memimpin Maluku ke depan harus kreatif dan memiliki ide brilian. Kriteria ini, katanya, ada pada salah satu sosok Engelina Pattiasina yang selama ini berjuang bersama-sama untuk mengentaskan kemiskinan di Maluku, lewat pembangunan kilang Blok Masela di darat (onshore).

“Saat ini banyak figur yang sudah bermunculan dan 99 persen adalah laki-laki dan hanya satu perempuan yaitu Ibu Engelina Pattiasina yang meramaikan konstetasi Pilkada Maluku. Dalam sejarah kepemimpinan di Maluku, baru satu orang perempuan yang duduk sebagai wakil Gubernur Maluku, yaitu Paula Renyaan. Dengan kehadiran perempuan pada Pilkada Maluku 2018, merupakan hal yang luar biasa. Sebagai perempuan, kita sangat mensupport itu, karena pengalaman di provinsi lain, Ibu Risma yang masyarakatnya sangat heterogen, namun mampu menata daerahnya,” tutur Maryam.

Maryam melihat, Engelina yang pernah menjabat sebagai anggota DPR-RI dan lulusan Ekonomi Jerman itu sudah banyak melakukan kegiatan edukasi kepada masyarakat Maluku, termasuk di bidang ekonomi dan budaya. Selain itu, telah membangun jaringan dengan para stakeholder untuk menggali berbagai persoalan yang berhubungan kemiskinan, pengangguran dan ketertinggalan di Maluku. Mulai dari ekonomi, pendidikan dan kesehatan dan dicari jalan keluarnya.

Sementara itu, dr. Hesiana Huliselan yang juga Direktur RS Sumber Hidup Ambon di tempat terpisah mengatakan, Engelina Pattiasina dalam sejumlah kegiatannya di Maluku maupun Jakarta selalu fokus untuk meningkatkan sumber daya manusia dan kemiskinan.

Minimnya sumber daya manusia serta fasilitas juga menjadi salah satu faktor penyebab pelayanan kesehatan kepada masyarakat berjalan tidak maksimal. Dia mengakui, inti dari pelayanan kesehatan adalah keselamatan pasien. Dengan demikian, dibutuhkan SDM berkompeten. Minimnya tenaga medis menyebabkan sejumlah daerah terpencil tidak terjangkau, sehingga pelayanan kesehatan tidak maksimal dan keselamatan pasien juga tidak terjamin. Demikian juga pelayanan terhadap kelompok rawan, yaitu ibu hamil, balita dan ibu menyusui. Menyikapi kondisi tersebut, mantan Sekretaris Kota Ambon ini menjelaskan, peningkatan tenaga medis yang berkompeten dan pembangunan fasilitas kesehatan berupa balai pengobatan, Puskesmas hingga tingkat desa harus dilakukan, agar dapat mendekatkan masyarakat dengan pusat pelayanan kesehatan.

“Jangan sampai di daerah terpencil, pasien harus menempuh perjalanan yang jauh untuk mencapai pusat pelayanan kesehatan,” tegasnya.

Menurutnya, Engelina Pattiasina juga sering memberikan berbagai ide tentang persoalan kesehatan di Maluku, dan memberikan perhatian khusus untuk kelompok rawan kesehatan.

“Saya sangat mengenal Ibu Engelina Pattiasina, dan sangat memperhatikan hal-hal yang kecil, khususnya kepentingan masyarakat. Lewat berbagai ide yang diberikan Ibu Engelina, ke depan pelayanan kesehatan bagi masyarakat dapat ditingkatkan,” katanya. (IN-10)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top