Maluku Utara

Cegah Infiltrasi Kelompok Radikal, Dandim Tobelo Laksanakan Sosialisasi di Morotai

19449525_1781529038529111_1407268141_o

Ternate, Maluku Utara.- Meningkatnya pergerakan ISIS, hingga menduduki Kota Marawi di Negara Filiphina belum lama ini mengharuskan negara-negara yang bertetangga seperti Malaysia dan Indonesia wajib meningkatkan keamanan guna mencegah adanya upaya infiltrasi maupun eksfiltrasi dari kelompok maupun simpatisan ISIS di Wilayah Indonesia. Terhadap hal itu maka jajaran Kodim 1508/Tobelo melaksanakan berbagai upaya pencegahan, yang salah satunya melalui pendekatan dan sosialisasi terhadap masyarakat yang berada di pedalaman dan perbatasan, Kamis (22/6/2017).

Dipandang urgent karena pulau Morotai yang secara geografis terletak di bibir Pasifik serta secara historis memiliki jejak hubungan dengan nelayan Filiphina yang pada zaman dahulu sering keluar masuk dan melaksanakan perdagangan dengan masyarakat Morotai. Sehingga Dandim 1508/Tobelo, Letkol Arh Herwin Budi Saputra yang didampingi sejumlah pimpinan FKPD, Camat dan perangkat Desa di jajaran Pemkab Pulau Morotai gencar melakukan pertemuan dan sosialisasi bahaya paham radikal serta mengantisipasi adanya upaya infiltrasi dari kelompok tersebut khususnya ISIS dari Marawi, kepada desa-desa yang ada di pulau terluar dan terpisah seperti Pulau Rao, Pulau Ngele-Ngele, Pulau Galo-Galo, dan Pulau Koloray.

Dalam setiap pertemuan dengan masyarakat Dandim beserta sejumlah pejabat terkait memberikan pemahaman tentang jati diri Bangsa Indonesia yang dibentuk dalam keberagaman suku, ras dan agama serta pentingnya persatuan dan kesatuan antar seluruh komponen bangsa guna mempertahankan NKRI. Saat ini Negara kita menghadapi 2 ancaman nyata yaitu yang pertama adalah Faham Komunis dimana sejarah telah mencatat PKI telah melakukan serangkaian pengkhianatan kepada Bangsa dimulai dari Tahun 1926, 1948 dan 1965. Setelah vakum cukup lama saat ini gerakan tersebut mulai muncul ke permukaan dan menyusun kembali kekuatan untuk memberontak kepada NKRI serta mengganti Dasar Negara Pancasila menjadi Komunis.

“Mereka sengaja menggiring berbagai opini bahwa Pancasila sudah tidak relevan dengan kehidupan modern. Perlu diketahui bersama bahwa Pancasila disusun berdasarkan semangat dan falsafah hidup bangsa Indonesia yang merupakan jati diri bangsa, dan Pancasila selamanya akan tetap menjadi Ideologi NKRI yang tak lekang oleh zaman,” terang Saputra.

Menurutnya, kekalahan kelompok ISIS di Suriah hingga terdesak dan menguasai Marawi di Filiphina membuat posisinya saat ini kian terpojok serta berusaha melarikan diri ke negara-negara tetangga termasuk Indonesia. Oleh karenannya Pulau Morotai sebagai wilayah yang berbatasan dengan Negara Filiphina patut diwaspadai sebagai sasaran Infiltrasi dari kelompok ISIS Filiphina, untuk itu perlu waspada dan siaga. Saat ini aparat keamanan tengah meningkatkan pengamanan dengan melakukan patroli di daerah pesisir dan pulau terpencil namun dihadapkan dengan jumlah wilayah yang sangat luas dengan personel maupun alutsista yang terbatas sehingga diperlukan peran serta dari seluruh masyarakat untuk turut serta mencegah wilayahnya disusupi kelompok radikal tersebut dengan cara mewaspadai nelayan-nelayan dari Filiphina. Selain itu melaksanakan pendataan warga baru dan pendatang, tidak mudah terpengaruh dengan ajaran sesat yang tidak sesuai dengan ajaran agama masing-masing serta melaporkan kepada aparat kemanan baik TNI maupun Polri setiap ada kegiatan yang mencurigakan.

“Kegiatan sosialisasi di wilayah Morotai guna mengantisipasi upaya penyusupan dari kelompok radikal, selain itu kita membangun early warning system sehingga setiap adanya indikasi pergerakan dari kelompok-kelompok tersebut dapat segera terdeteksi dan dapat diambil tindakan sesegera guna menciptakan wilayah Morotai dan Halmahera Utara yang kondusif,” tuntasnya.  (IN-10)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top

This site is protected by wp-copyrightpro.com