Seram Bagian Timur

Roda Ekonomi SBT Melambat, Diduga Dampak Bupati Sering Plesiran

Demo Lapar

BULA,MALUKU- Perputaran ekonomi dikabupaten Seram Bagian Timur (SBT) saat ini melemah. Warga mengeluh bupati dan wakil bupati setempat dinilai suka plesiran keluar daerah. Hal ini menyebabkan lambannya kebijakan yang dibuat terutama kebijakan untuk mempercepat penyerapan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Tidak tahan melihat kondisi masyarakat SBT itu, sejumlah pemuda yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat LAPAR SBT pada Jumat, (19/5) pagi melakukan aksi unjuk rasa di kota Bula, SBT. Unjuk rasa yang dipusatkan dipertigaan jalan protokol Kota Bula ini untuk meminta bupati dan wakil bupati SBT, Abdul Mukti Keliobas dan Fachri Husni Alkatiri melihat kondisi perekonomian didaerah itu yang saat ini memprihatinkan.

Mukti Keliobas dinilai tidak serius membangun daerah ini. Sebab, sejak dilantik kurang lebih satu tahun lalu, Keliobas memilih sering keluar daerah tanpa ada kejelasan alasan keberangkatan orang nomor satu di daerah tersebut.
Padahal, ada hal penting yang harus dilakukan untuk memperlancar perputaran roda perekonomian di sana dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Mereka menilai, lambannya penggunaan anggaran pembangunan yang dialokasi dalam APBD tahun 2017 menjadi penyebab lambannya roda perekonomian.

Demo SBT LAPAR“Perputaran ekonomi di Kabupaten Seram Bagian Timur, khususnya di kota Bula berada pada zona kritis,” ungkap salah satu orator.
Menurut mereka hal tersebut disebabkan Bupati belum mengangkat pimpinan defentifif di sejumlah SKPD. Sebagian besar kepala dinas masih dipimpin oleh pelaksana tugas. Belum lagi sejumlah bendahara dinas yang belum diberikan legitimasi dalam bentuk SK bendahara defentif.

Para Pemuda yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat LAPAR Seram Bagian Timur ini mendesak bupati Mukti Keliobas kembali dan menata daerah itu.
Mereka menilai keberangkatan Keliobas hanya menghabiskan uang daerah. Padahal masyarakat di daerah ini butuh perhatian serius.

“ Yang dipertanyakan ini adalah selama keberangkatan pak bupati, apa manfaatnya untuk daerah ini. Tidak ada manfaatnya,” seru oratror lainnya.

Terhitung sejak dilantik pada Februari 2016 lalu hingga kini sudah 48 kali bupati melakukan perjalanan dinas keluar daerah.

“Mari kita kumpulkan koin, kita kirim ke Jakarta untuk kasih pulang bupati dan wakil bupati ke SBT karna mereka sudah terlalu lama keluar daerah hingga lupa pulang, “ungkap Kordinator lapangan (Korlap), Said Gasam dalam orasinya.

Selain itu, pendemo juga meminta bupati dan wakilnya tidak menutup mata melihat sejumlah persolaan yang dialami masyarakat didaerah dengan julukan Ita Wotu Nusa itu. Salah satunya adalah masalah kasus busung lapar yang sudah tiga kali terjadi dalam setahun. Selain kasus busung lapar, pemerintahan Mukti-Fachri juga dinilai menutup mata melihat persoalaan kenaikan harga kebutuhan bahan pokok dari ke hari terus mengalami peningkatan. Padahal, tidak kurang dari seminggu masyarakat SBT khususnya umat muslim akan memasuki bulan suci ramadhan.

“Hari ini pemerintah daerah lagi buta, buta tentang masalah ekonomi didaerah ini, sayur-sayuran naik harga, minyak tanah sulit, padahal kota Bula dijuluki kota minyak, “ungkap Sitti Komaria Rumalolas, salah satu pengunjuk rasa dalam orasinya.

Para pendemo meminta bupati dan wakil bupati harus lebih efektif menjalankan roda pemerintahan terutama mempercepat kebijakan penyerapan APBD agar ekonomi dan perputaran uang ditengah masyarakat bisa normal kembali. Mereka juga meminta bupati dan wakilnya mengingat kembali janji-janji suci yang diucapkan saat proses pemilihan kepala daerah (pilkada) lalu.

“Mana janji-janji pemerintahan Mukti-Fachri yang diucapkan saat kampanye, mana buktinya, “tanya salah satu orator.

Selain bupati dan wakil bupati, dalam aksi unjuk rasa itu, para pendemo juga mengutuk keras tindakan DPRD kabupaten SBT yang dinilai sengaja membiarkan berbagai persoalaan yang terjadi didaerah itu. Mereka meminta lembaga legislatif itu menggunakan hak istimewanya untuk memanggil bupati dan wakil bupati untuk dimintai pertanggungjawaban.

Setelah 2 jam melakukan orasi dibundaran pertigaan Jalan Protokol Kota Bula, para pengunjuk rasa membubarkan diri dengan tertib. Dalam aksi damai itu para pengunjuk rasa dikawal puluhan anggota kepolisian Resort Seram Bagian Timur. (IN-16/IN-17)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top