Seram Bagian Timur

Anggaran 2 M Untuk MTQ di Wakate

Logo MTQ SBT

Bula,Maluku- Polemik tentang besaran anggaran pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’ar (MTQ) VIII tingkat kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) yang dilaksanakan di kecamatan Wakate terjawab sudah. Ini setelah Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kabupaten SBT, Sagaf Kelirey mengklarifikasi pemberitaan INTIM NEWS yang disampaikan Ketua bidang investigasi Indonesia Monitoring Developmen (IMD), Salim Rumakefing tentang sebesar besar anggaran yang dialokasikan untuk pelaksanaan ivent yang baru ditutup selasa pekan kemarin.

Kata dia, pada saat Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dibahas, dana yang dialokasikan untuk pelaksanaan MTQ dikecamatan Wakate hanya sebesar Rp. 600 juta namun setelah dilakukan lobi-lobi bersama Bupati dana tersebut kembali ditambah menjadi Rp. 2 miliar.

“Waktu APBD duduk itu teralokasi Rp. 600 juta, tapi apakah dengan dana sekecil itu mampu melaksanakan ivent MTQ tingkat kabupaten dengan rentang kendali yang jauh dan biaya kemahalan yang cukup tinggi. Setelah katong (kita) perjuangkan dengan pak bupati ada penambahan anggaran Rp.2 miliar, “unagkapnya.

Dikatakan, dari alokasi dana Rp. 2 miliar itu, ia diminta oleh Bupati untuk melakukan efisiensi agar sisa dari dana tersebut dapat dipakai untuk pengiriman kontingen SBT mengikuti MTQ tingkat provinsi Maluku yang dilaksanakan dikota Namrole, kabupupaten Buru Selatan.

“Pak Bupati minta kita lakukan efesiensi sampai pada pengiriman kontingen ke MTQ tingkat provinsi tapi ternyata yang terjadi dengan biaya kemahalan dan sebagainya anggaran itu kita tidak mampu membendung, “ katanya.

Menurut Kelirey, untuk melakukan efesiensi, pihaknya sudah melakukan berbagai macam cara salah satunya yakni membagi tugas pengelolaan anggaran tersebut. Untuk pengelolaan keuangan yang diperuntuhkan untuk materi perlombaan dilakukan oleh panitia tingkat daerah yang langsung dikordinir oleh dia selaku ketua LPTQ. Sementara untuk pengelolaan keuangan untuk kebutuhan lapangan seperti panggung dan konsumsi dilakukan oleh panitia lokal yang dananya diserahkan langsung kepada camat Wakate selaku ketua panitia.

Selain biaya kemahalan, waktu yang begitu singkat untuk melakukan persiapan juga menyebabkan biaya pelaksanaan MTQ kedelapan SBT dikecamatan yang berjuluk Jazirah Timurlomin itu membengkak.

“Pak Bupati minta kita efisiensi dan kita harus jaga amanah itu sehingga angaran itu kita bagi, untuk kebutuhan lapangan misalnya panggung, konsumsi dan lain-lain kita serahkan ke pak camat selaku ketua panitia, yang kita kelola bersifat Musabaqah, persiapan dewan, dan teknis lain dengan maksud untuk kita efisiensi anggaran dan waktu. Jadi kalau bicara tidak terima itu salah, ada kwitansi kok, “ jelas dia.

Dikatakan, meskipun harapan bupati agar panitia MTQ dapat melalukan efisiensi anggaran hingga anggaran tersebut dapat dipakai pada kegiatan MTQ tingkat Provinsi namun akibat biaya kemahalan yang terjdi di Wakate membuat pengeluaran anggaran membengkak.

“Harapan lain kegiatan MTQ di Wakate harus jalan sukses. Ini dua harapan yang berbeda antara ketersedian anggaran dan harapan sukses. Setibanya dilokasi ternyata yang kita dapatkan anggaran itu dia membengkak. Tapi seluruh dokumen pembelajaan kita siapkan, bukan saja kwitansi tapi juga kita foto. Sedetail apapun kita foto, “jelasnya.

Pihaknya memastikan seluruh laporan penggunan dana akan dipertanggungjawabkan dengan baik. Untuk itu mantan kepala bagian tata usaha pada kantor kementrian agama kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) ini mempersilahkan lembaga auditor untuk melakukan audit pelaksanaan ivent tersebut.
“Beta (saya) siap diaudit, kenapa harus takut, kalau takut berarti ada apa-apanya, “ ungkap dia. (IN-17)

Print Friendly, PDF & Email
Comments
To Top