Cover Story

Amazing.. Nyong Ambon Jadi Presidium Mahasiswa Indonesia di Belanda

Jecky Tangens
Jecky Tengens

D unia pendidikan di Maluku boleh saja terpuruk secara nasional. Tapi, sumber daya manusia asal daerah ini tak jarang punya prestasi membanggakan di level nasional hingga internasional. Jecky Tengens, satu dari sebagian banyak anak Maluku yang berprestasi dan punya masa depan cerah. Saat ini Presidium/Delegasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Periode 2016-2017 di Tilburg, Belanda, itu tengah menempuh kuliah Jurusan ’Master of Victimology and Criminal Justice’ di Tilburg University.

JECKY Tengens lahir di Ambon. Dia bersekolah di SD Kristen Kalam Kudus dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Xaverius Ambon. Sewaktu konflik berhaluan SARA menerpa Kota Ambon dan sebagian Maluku pada awal 1999 hingga 2004, putra ketiga pasangan Heygel Tengens dan Hilda Kastanya, itu melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA Rex Mundi, Manado, Sulawesi Utara.

Setelah itu dia melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Atmajaya Jakarta dan lulus sebagai salah satu lulusan terbaik sehingga memperoleh cincin emas dari kampus tersebut. Menganggur lebih kurang dua bulan, Hamdani Laturua mengajaknya ke Ambon untuk bergabung dengan Kantor Advokat Hamdani Laturua dan rekan.

’’Jadi pak Hamdani Laturua adalah sosok awal yang mengajarkan dan mendidik Jecky sebagai advokat,’’ kisah Heygel Tengens, ayah Jecky Tengens, dalam bincang-bincang dengan INTIM NEWS Maluku di Ambon, Selasa (14/3).

Jecky sempat beracara di Pengadilan Negeri Kelas 1A Ambon dan dia ikut membela perkara privat dan perselisihan hubungan industrial. Hanya berselang empat bulan Jecky beracara di PN Ambon. Setelah itu dia merantau di ibu kota dan bergabung dengan LBH Mawar Saron di bawah bendera Hotma Sitompul dan rekan. Akhir tahun 2015, Jecky diambil sumpah sebagai Advokat oleh Peradi Cabang Ambon di Swissbel Hotel Ambon.

’’Waktu pengambilan sumpah sebagai advokat, Jecky datang dengan dua rekannya dari Jakarta ke Ambon,’’ imbuh Heygel.

Saat ini Jecky menjabat Ketua Divisi Non Litigasi LBH Mawar Saron. Karena keahlian dan kemahirannya di bidang hukum, khususnya penyelesaian perkara di luar pengadilan, Jecky dipercayakan mengikuti pendidikan, kursus-kursus dan workshop di sejumlah Negara, di antaranya Thailand, Filipina, Australia dan Malaysia.

Untuk menambah kemampuan dan keahliannya di bidang hukum, Jecky berkelana di Negeri Kincir Angin, untuk mengambil program jurusan Victimologi yang secara organisasi belum ada di Indonesia.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai program jurusan yang sedang ditempuhnya saat ini, kita ikuti tanya jawab dengan kakak kandung mantan presenter cantik Jejak Petulang TransTV, Chintya Tengens.

Apa jurusan master yang Anda ambil dan Bagaimana sistem perkuliahannya?

Perkenalkan nama saya Jecky Tengens. Sekarang saya sedang menempuh kuliah Jurusan Master of Victimology and Criminal Justice di Tilburg University, Netherland. Kebetulan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan saya di bidang hukum sebagai Advokat membuat saya tertarik mengambil jurusan ini. Program MSc ini merupakan salah satu program Viktimologi yang memiliki research institute-nya sendiri di bawah naungan INTERVICT (International Victimology Institute Tilburg) sehingga pelajarannya merupakan kombinasi dari hasil penelitian, teori serta praktik empiris dari berbagai keilmuan. Jadi di program ini saya tidak hanya belajar tentang aspek hukum saja, namun juga tentang kondisi mental health korban dan sekitarnya, psikologis korban, masyarakat, serta isu-isu lain yang terkini mengenai korban dan sistem hukum pidana.

Program Master ini berlangsung dalam dua semester (1 tahun), dimulai dari fall semester (September-Desember) dan Winter Semester (Februari-Juni), serta memiliki jumlah kredit sebanyak 60 ECTS, di mana terdapat 1 mata kuliah pilihan, 8 mata kuliah wajib serta Master Thesis.

Mata kuliah apa saja yang menarik untuk Anda?

Ada beberapa mata kuliah yang menarik buat saya dalam jurusan ini. Misalnya dalam mata kuliah Theories and Empirical Perspective of Justice. Di sini saya belajar banyak tentang teori-teori yang melingkupi sistem pidana, proses viktimisasi (bagaimana seorang menjadi korban) serta kejahatan disertai dengan hasil-hasil penelitian empiris yang mendukung teori-teori tersebut. Misalnya, mengapa seseorang lebih rentan menjadi korban kejahatan dibandingkan dengan orang lain, apa saja faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya kejahatan, dan apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh korban untuk setiap jenis kejahatan yang berbeda-beda.

Pelajaran lainnya yang menarik menurut saya ialah Psychology and Law yang diajarkan pada Spring Semester. Pelajaran ini sangat menarik karena banyak “eksperimen-eksperimen” kecil yang dilakukan di dalam kelas untuk mengukur bagaimana sebenarnya sih reaksi seseorang dalam “melihat” sebuah peristiwa pidana. Contohnya dosen kita memutar video cuplikan sebuah peristiwa dan para murid kemudian disuruh untuk mencatat hal-hal spesifik yang mereka lihat dalam video tersebut. Nantinya akan dibahas mengapa ada murid yang melihat bahwa telah terjadi kejahatan dalam peristiwa tersebut, dan ada yang sama sekali tidak melihat kejahatan tersebut. Setelah itu, nanti akan dibahas mengapa hal itu bisa terjadi disertai dengan hasil penelitian yang mendukung argumentasi tersebut.

Apa saja pilihan topik penelitian atau proyek di program studi tersebut. Apa kira-kira rencana penelitian atau projek Anda (jika sudah ada)?

Dikarenakan program Victimology and Criminal Justice ini merupakan program yang terdiri dari berbagai macam keilmuan, maka pilihan topik penelitian ataupun penulisan master thesis yang ditawarkan juga sangat beragam. Jadi nantinya murid bisa menyesuaikan dengan topik yang dirasakan lebih menarik dan cocok dengan latar belakang keilmuannya sendiri. Saya sendiri karena latar belakangnya adalah hukum, maka topik yang akan saya angkat nantinya tidak akan jauh dari isu seputar sistem pidana Indonesia. Bagi yang masih bingung mau menulis apa, nantinya akan diberikan ’Course Master Thesis’ di mana para murid akan ditawarkan beberapa topik penulisan yang beragam disertai dengan supervisornya masing-masing. Jadi hal ini akan sangat membantu mereka yang masih awam untuk proses penulisan thesis.

Bagaimana cara mendaftar ke program studi Anda dan Apa saja requirements-nya?

Pendaftarannya tidak sulit kok. Nanti calon mahasiwa akan diarahkan untuk membuat account pendaftaran untuk mempermudah proses administrasi secara online. Untuk info pendaftaran Master Programnya bisa dilihat langsung ke link Tilburg Univesitynya yah di https://www.tilburguniversity.edu/education/masters-programmes/
Nanti di link tersebut terdapat beberapa program yang ditawarkan dan tinggal dipilih saja program mana yang diinginkan. Setelah itu akan diarahkan ke persyaratan yang diminta untuk masing-masing program. Untuk pilihan beasiswanya juga beragam. Infonya bisa dilihat di link https://www.tilburguniversity.edu/education/masters-programmes/tuition-fees-scholarships/.

Apakah ada jurusan yang sama dengan Anda di universitas lain di Belanda dan Bagaimana komparasinya?

Untuk jurusan Victimology and Criminal Justice itu setahu saya itu cuma ditawarkan di Tilburg University. Ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa saya memilih program ini karena program ini unik, dan menurut saya nanti akan berguna sekali ke depannya bagi perkembangan dunia hukum Indonesia.

Apa saja prospek kerja yang relevan dengan program rencana Anda setelah lulus?

Prospek kerja bagi mereka yang memilih jurusan ini juga cukup banyak. Dengan memiliki pemahaman yang komprehensif tentang Victimology and Criminal Justice maka para lulusan progam ini nantinya bisa bekerja di lembaga-lembaga pemerintah maupun non-pemerintah yang memberi dukungan bagi korban, seperti misalnya institusi penegak hukum (Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, Advokat) maupun melakukan penelitian untuk bahan masukan pengambil kebijakan. Selain itu, program study trip yang ditawarkan juga cukup membantu mereka yang hendak mencari pengalaman tambahan. Tahun ini misalnya diadakan study trip ke Rwanda untuk melihat langsung bagaimana kondsi para korban kejahatan perang di sana. Bagi para lulusan yang kembali ke Indonesia, pengetahuan tentang keilmuan ini akan sangat membantu mereka untuk mengembangkan cabang ilmu Viktimologi di Indonesia mengingat belum ada institute maupun program yang khusus membahas tentang Viktimologi itu sendiri. Beberapa contoh career prospect yang lainnya dapat dilihat di link ini https://www.tilburguniversity.edu/education/masters-programmes/victimology-and-criminal-justice/career/. (IN-01/Ros)

Comments
To Top

This site is protected by wp-copyrightpro.com